Jadilah Pengkritik yang Cendekia

Rektor UIN SMH Banten Prof Dr. H. Fauzul Iman, MA. (Foto: Istimewa)

Oleh Prof Dr. H. Fauzul Iman, MA

Suatu hari Abu Dzar bertanya kepada Abu: Hurairah yang menjadi Gubernur di Bahrain “Anda telah diangkat menjadi Gubernur?” tanya Abu Dzar. “Benar,” jawab Abu Hurairah. “Apakah Anda yang telah membangun rumah megah seperti istana dengan sebidang tanah yang luas?” “Tidak benar itu,” jawab Abu Harairah lagi. “Kalau begitu Anda adalah saudaraku,” kata Abu Dzar. Kedua sahabat Rasulullah Saw itu lalu saling berpelukan

Abu Dzar juga pernah mengkritik Muawiyah yang menjadi Gubernur Syria. Ketika itu ia berkunjung ke Syria dan menjumpai Muawiyah dengan kehidupan istana yang serba mewah dan mendapat hak-hak istimewa. “Kalau Anda membangun istana ini dengan uang negara, berarti Anda telah menyalahgunakan uang negara. Kalau Anda membangunnya dengan uang sendiri, berarti And: melakukan pemborosan,” kata Abu Dzar mengkritik Muawiyah.

Muawiyah tidak menjawab kritik itu, ia hanya terdiam. Melihat sikap Muawiyah yang demikian, Abu Dzar lalu mengumpulkan para cendekiawan untuk mendiskusikan sikap Muawiyah itu. Dan, ternyata para cendekiawan tidak mendukung Abu Dzar. Muawiyah kemudian mengadu kepada Khalifah Utsman bin Affan bahwa Abu Dzar telah menyebar kebencian. Lalu Khalifah Utsman di Madinah memanggil Abu Dzar dan seorang cendekiawan agar persoalan ini didiskusikan.

Lagi lagi diskusi itu tidak membawa hasil. Akhirnya Khalifah Utsman meminta Abu Dzar agar meninggalkan Madinah untuk tinggal di Rabza, sebuah kampung kecil. Di tempat itu Abu Dzar dipanas-panasi oleh Abdullah Ibnu Saba, seorang musuh Islam agar memberontak kepada Khalifah Utsman. Namun, Abu Dzar justru menolak. “Walaupun Utsman menggantungku di bukit yang paling tinggi, aku tidak akan mengangkat jariku untuk melawannya,” tegas Abu Dzar dengan nada marah.

Dari kisah tadi dapat diambil pelajaran berharga. Pertama, Abu Dzar adalah seorang cendekiawan pejuang yang patut kita teladani, karena peka terhadap nasib rakyat kecil. Ia tidak ingin kekayaan negara hanya melimpah kepada orang-orang tertentu, sementara kaum lemah hidup dalam kemiskinan.

Kedua, dalam diri Abu Dzar tertanam jiwa sosial yang menentang sikap kapitalisme dan kaum spekulan yang menumpuk harta kekayaan tanpa pendistribusian secara adil. Ketiga, ketika Abu Dzar sedang mengkritik, posisinya bukan tipe kritikus hura – hura yang gemar mengerahkan massa demi popularitas pribadi.

Keempat,  Abu Zar adlah pengkritik cendekia yang menghindari tipe pendendam. Ia cenderung berprilaku egaliter dan jauh dari kepentingan meraih kekuasaan. Kritik yang disampaikannya menganulir narasi ketersingungan sosial yang memancing radikalisme laten.

Dalam Al-Qur’an, manusia diperintahkan menjadi syahid (saksi), mubasysyir,  dan siraj. Saksi berarti sikap berbekal ilmu dan pengalaman yang peka pada realitas timpang. Seorang syahid (saksi) tidak akan cukup tanpa sikap mubasysyir, yaitu sikap tidak meresahkan masyarakat (penggembira). Sikap mubasysyir tidak cukup pula tanpa sikap memberi kritik konstruktif. Akhirnya manusia perlu menjadi siraj (pelita), yaitu manusia yang tidak hanya pandai mengkritik, tetapi juga mampu memberi solusi atau jalan terang kepada masyarakat (QS. al-Ahzab [33]:45).

Semoga kecendekiaan Abu Zar ini mnjdi ibrah berharga  bagi para tokoh/pemimpin umat yang hidup di abad moder ini.

 

Penulis adalah Rektor UIN SMH Banten

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here