Puasa Cinta

Oleh. Eko Supriatno

Menjelang masuknya bulan suci Ramadhan 1439 Hijriyah ini, akun instagram @cakiminow sebagai akun resmi H. A. Muhaimin Iskandar (Cak Imin) merilis meme bertagline “Mari Tebarkan Cinta di Bulan Suci”. Bagi penulis ini sungguh sangatlah menarik.

Melalui pesan tersebut, Cak Imin sedang berdakwah kepada masyarakat luas bahwa problem bangsa yang mendera akhir-akhir ini diantaranya sebagai akibat jiwa kebangsaan kita kehilangan cinta.

Secara pribadi, penulis sangat optimis bahwa bangsa Indonesia masih punya “cinta”, dan dengan “cinta” tersebut akan mampu menghalau berbagai hal negatif perusak persatuan dan kesatuan bangsa.

Pasalnya, selama kurun 30 tahun terakhir, penulis menilai bahwa hubungan antar umat beragama di Indonesia justru semakin kuat dan positif. Contohnya saat terjadi serangan teroris dengan pedang di sebuah gereja di Yogyakarta, besoknya putra-putri muslim turun membantu membersihkan gereja.

Begitu juga saat terjadi teror bom di Surabaya dan Sidoarjo beberapa hari lalu. Dimana duka dan luka keluarga korban serangan bom bunuh diri Surabaya di tiga lokasi belumlah kering. Namun umat Katolik Keuskupan Surabaya telah memaafkan para pengebom.

Ini adalah sesuatu “pesan cinta” yang sangat dahsyat sekaligus menggembirakan sebagai penumbuh harmoni dan solidaritas kita. Tapi lebih penting lagi adalah kesediaan untuk saling menerima dan menghormati, yang akhirnya bisa saling menghargai sehingga terbangun hubungan yang positif.

Ditilik dari sisi sejarah, Indonesia adalah negara yang kuat dan kokoh. Merdeka bukan dari hadiah negara lain, tapi hasil perjuangan para pahlawan bangsa. Kemudian jiwa persatuan dengan Sumpah Pemuda 1928, dan kemajemukan saat memutuskan ideologi negara, terbukti menjadi pondasi kokoh yang mampu menjaga bangsa dari berbagai gangguan.

Bahkan saat reformasi 1998, saat itu banyak pengamat yang meramal Indonesia akan pecah seperti Uni Soviet dan Yugoslavia. Tapi nyatanya, itu tidak terjadi dan Indonesia tetap jaya dengan Bhinneka Tunggal Ika-nya.

Indonesia negara yang sangat berdaulat dalam menangani dirinya sendiri. Dari sejak merdeka, banyak masalah terjadi, tapi tidak sampai mengancam kebangsaan.

Kendati demikian, kita perlu mewaspadai tentang adanya ancaman dari ideologi transnasional dari luar negeri yang terus mengusik kedamaian dan kesatuan bangsa. Ideologi itu dinilai sangat agamis fundamentalis, ekstrimistis, penuh kebencian, seperti ideologi yang dianut pelaku teror bom Surabaya.

Bagi penulis, ideologi itu sangat kejam dan menyayat hati. Apalagi aksi terorisme itu dilakukan sekeluarga, ada bapak, ibu, dua anak laki-laki, dan dua anak perempuan.

Puasa Cinta

Alangkah indahnya bila perilaku hidup kita sehari-hari diliputi oleh rasa”cinta”, solidaritas, menjaga rasa aman, saling menghargai perbedaan, tanggung jawab, kedamaian dan lain sebagainya sebagai niat suci ibadah puasa.

Dengan “cinta” penulis yakin solidaritas kolektif antaranggota masyarakat akan lebih mudah dibangun dan kokoh saat mereka senasib sepenanggungan.

Orang-orang berpuasa mempunyai dasar dan tujuan sama. Bahkan dengan rasa laparnya juga sama, sehingga akan melahirkan sikap saling peduli dan empati. Secara tidak langsung hal ini dapat memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa.

Puasa Cinta mengajarkan kepada kita bahwa mestinya harus “mudah” dalam hal mengulurkan tangan untuk membantu orang lain. Sebab di antara sesama memang harus tolong menolong seperti perintah Tuhan Maha Kebaikan, yaitu Allah Subhanahu wa ta’ala.

Seperti kita ketahui, puasa dalam bahasa Arab shaum dan jama’nya adalah shiyam. Shaum berarti al-imsak atau ‘menahan’. Puasa berarti menahan dari makan dan minum.

Puasa untuk melatih mengendalikan diri, hawa nafsu, dan sifat-sifat buruk lain  agar berubah menjadi manusia baru seperti tergambar dalam surat Al-Baqarah, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”.

Puasa jangan hanya dimaknai sebagai suatu rutinitas. Puasa harus dijadikan momen latihan untuk meningkatkan “cinta” dan kepekaan sosial. Cinta dan Kepekaan sosial yang dimaksud tidak hanya diwujudkan dengan berbagi uang dan harta, tetapi dapat dilakukan dengan bersikap sewajarnya dan tidak berlebihan. Meskipun memiliki harta lebih dari cukup, tak boleh pamer dengan hidup bermewah-mewah karena masih banyak masyarakat berkekurangan.

Puasa Cinta hendaknya dihantarkan kepada riyadloh kesadaran rohaniah yang kemudian melahirkan perubahan konstruktif dalam perilaku kehidupan sehari-hari.

Meski puasa disyari’atkan sebagai ibadah individual, tetapi jangan dibiarkan ia hanya memiliki hikmah yang berdimensi jasmaniyah. Lebih dari itu, mesti memiliki hikmah ruhaniyah dan ijtimaiyah (cinta).

Puasa Cinta juga bermakna bahwa pada dasarnya beribadah apapun dari sebuah ajaran agama adalah ditujukan “cinta dan rahmat” untuk semua.

Cinta dan Rahmat yang membawa nilai-nilai positif seperti al-amn (rasa aman, tenteram, sejuk). Seperti halnya pesan dari firman Allah, “Mereka yang beriman dan tidak mengotori imannya dengan kedzaliman, mereka itulah orang-orang yang mendapatkan al-amn”. (QS. al-An’am/ 6: 82).

Puasa Cinta adalah ajakan atau seruan kepada yang baik, dan yang lebih baik. Dalam Puasa cinta, ada ide tentang progresivitas, sebuah proses terus menerus menuju kepada yang baik dan yang lebih baik dalam mewujudkan tujuan berpuasa itu. Sehingga dalam berpuasa adalah suatu ide dinamis, sesuatu yang terus tumbuh dan berkembang sesuai dengan runtutan ruang dan waktu.

Spirit Puasa Cinta harus menjadi “ruh” kita semua, khususnya tokoh agama untuk dengan masif menyebarkannya. Ketika beribadah penuh “cinta” mampu dihayati dan diamalkan dengan baik.

Penulis yakin bahwa kondisi negara Indonesia akan maju dan damai. Karena kita sudah membangun Indonesia dalam cinta, harmoni dan solidaritas yang bagus.

Mari kita tidak mengizinkan kekerasan dan kebencian sekelompok kecil orang yang ingin merusak persatuan ini. Mari saling menerima, menghormati, menghargai, mendukung, dan mencintai, supaya Indonesia tetap menjadi negara adil, berperikemanusiaan, penuh ampunan Tuhan, yaitu negeri baldatun tayyibatun warabbun ghafur.

Ajakan menebar cinta dari Cak Imin rasanya tidak berlebihan sebagai ikhtiar keluar dari berbagai problem yang tak tak kunjung mati meluputi negeri ini. Dengan cinta, Islam mensyari’atkan kita merawat kasih sayang bagi semesta alam dan seisinya.

Salam Cinta!

Penulis adalah : Dosen UNMA Banten/Pekerja sosial di Banten Institute for Regional Development (BIRD), dan Banten Religion and Culture Center (BRCC)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here