Timteng Jadi Sasaran Pemberangkatan TKI Bermasalah

Ilustrasi. (Foto: Dok/Net)

Serang, Liputanbanten.co.id – Ketua Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) Provinsi Banten Maftuh Salim menyebutkan jika wilayah Timur tengah menjadi sasaran permberangkatan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) non prosedural. Hal itu dikarenakan dari sekian kasus yang terjadi secara umum berada di wilayah tersebut.

“Kalau TKI yang hilang saat ini sekitar ada 25 orang di Kabupaten Serang, masa kerjanya ada yanv 12 tahun dan ada 25 tahun putus kontak,” ujar Ketua SbMI Banten Maftuh Salim.

Maftuh mengatakan, TKI tersebut berasal dari kantung kantungnya yakni di Kecamatan Pontang, Tanara, Tirtayasa dan Lebak wangi. Secara umum mereka berangkat ke timur tengah. “Itu semua di timteng (timur tengah), dari 19 negara. Kalau yang ke Hongkong dan Asia itu enggak ada masalah,” katanya.

Menurut dia, menjadi bermasalahnya TKI tersebut di wilayah Timteng selain faktor pemberangkatan yang non prosedural juga dikarenakan perbedaan kultur, bahasa dan budaya. Sebab kebanyakan TKI yang berangkatnya lewat jalur non prosedural itu tidak tahu bahasa di sana. “Bahasa dan skill tidak ada sehingga terjadi seperti itu (tindak kekerasan). Karena orang Arab berbeda dengan orang kita, mereka ketika bertanya dan kita enggak tahu biasanya bisa marah,” ucapnya.

Menurut dia, apa yang disebutkan itu bukan tanpa alasan, sebab ia pun sebelumnya sudah pernah berangkat ke timur tengah. Dimana pada saat itu, dirinya diminta mengambil Arobia oleh majikannya, namun karena ia tak paham dan salah mengerjakan perintah maka tindak kekerasan pun didapatkannya. “Ada bekas pukulan karena ketidan tahuan soal bahasa,” ujarnya.

Maftuh menuturkan, masyarakat yang sudah berangkat ke timur tengah dan menjadi TKI dianggap sudah menjadi budak karena telah dibeli dengan harga 10 ribu dolar atau sekitar Rp 125 juta per orangnya. “Makanya mereka itu orang Arab merasa sudah membeli jadi merasa berhak,” tuturnya.

Ia mengatakan, semua TKI yang berangkat ke timur tengah adalah ilegal. Sebab jalur resminya sudah ditutup sejak tahun 2010, dan tidak boleh ada lagi yang berangkat kesana. Secara umum alasan mereka berangkat menjadi TKI tidak lain karena ekonomi yang rendah. “Tahu sendiri disini ekonomi kurang, menginginkan bahagiakan anaknya, makanya berangkat kesana,” katanya.

Padahal ujar dia, ketika anggota keluarganya berangka jadi TKI, sebenarnya juga timbul masalah baru. Terkadang uang yang dikirim dari luar negeri tidak dipergunakan sebagaimana mestinya. Kemudian ada juga yang bercerai karena buruknya komunikasi. “Jadi beban sebenarnya. Kalau TKW itu bulan ini dapat gaji sekitar 1200 real atau Rp 4 juta lebih. Karena kan 1 real Rp 35.000,” tuturnya.

Sementara, Seksi perlindungan dan pemberdayaan program pada BP3TKI Serang, Budi Nurcahyo mengatakan, untuk mengungkapkan kasus adanya TKI di Timteng memang sedikit sulit. “Karena kalau kita tidak dapat laporan dari sana bahwa ada PMI (Pekerja Migran Indonesia) yang hilang enggak bisa. Karena masuk rumah mereka saja bisa dipegang (hukum),” ujarnya.

Kepala Bidang Binapenta pada Disnakertrans Kabupaten Serang Ugun Gurmilang mengatakan, untuk informasi adanya TKI yang masih berada di luar negeri pihaknya mengaku belum mendapatkan laporan. “Belum ada laporan, kembali lagi yang namanya ilegal sulit terdeteksi. Upayanya juga gimana karena ilegal,” ujarnya.

Disinggung soal sponsor yang bermasalah, pihaknya akan memanggil sponsor sponsor tersebut. “Kita ada daftarnya bagi mereka yang ketahuan seperti itu (bermasalah) akan dipanggil ke kantor. Yang terdaftar itu diatas 20, yang namanya ilegal enggak ada datannya tuturnya. (Lb/Yna)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here