Penyerapan Pembangunan Sekolah Rendah, Warga Sosialisasi Kanal Pengaduan

orum Komunitas Sekolah Aman (FOKSA) sosialisasikan kanal pengaduan kepada masyarakat. Rabu (6/12) (Liputanbanten)

Serang, Liputanbanten.co.id – Kabupaten Serang dikatakan menjadi peringkat ketiga daerah yang memiliki jumlah sekolah rusak yang tinggi. Namun di sisi lain, dirasa masih perlu adanya peningkatan dalam perencanaan dan penganggaran untuk biaya perbaikan sekolah rusak tersebut.

Hal tersebut terungkap dalam konferensi pers FOKSA yang bekerjasama dengan YAPPIKA ACTION Aids dengan Pusat Telaah dan Informasi Regional (PATTIRO) Banten.

Dengan melihat lambatnya program perbaikan untuk sekolah, puluhan warga yang tergabung dalam Forum Komunitas Sekolah Aman (FOKSA) berinisiatif untuk melakukan sosialisasi kepada warga lain di Kabupaten Serang dengan memberikan edukasi terkait melakukan pengaduan adanya sekolah rusak di daerahnya, adapun titik sosialisasi terletak di perempatan Palima, perempatan Ciruas dan pertigaan Petir.

Menurut Wakil Koordinator FOKSA, Sukemi, berdasarkan pengalaman anggota FOKSA seperti di SDN Sampang, Periuk, Cimiung, Kalibuntu dan Bugel, dengan memberanikan diri untuk menyuarakan dan melaporkan kodisi sekolah kita melalui kanal pengaduan ini, terdapat dampak yang positif.

“Alhamdulillah mendapatkan respon yang baik dari Pemda. Atas respon tersebut, kami ucapkan terima kasih kepada Bupati, dan semoga respon yang sama bisa juga dirasakan oleh sekolah-sekolah lain yang kondisinya rusak di Kabupaten Serang,” jelasnya, Rabu (6/11/2017).

Ia berharap, pemerintah lebih serius melihat persoalan ruang kelas rusak dan memperbaiki tata kelola penyelesaian permasalahan ruang kelas rusak. Sehingga alokasi bantuan perbaikan menjadi tepat sasaran dan tidak ada lagi sekolah yang kondisinya memperihatinkan karena terlambat mendapatkan bantuan.

Sementara itu, Manajer YAPPIKA ACTION-Aids, Hendrik Rosdinar sebagai mitra FOKSA menyatakan, Setiap laporan yang masuk, nantinya, akan diteruskan ke Kementerian Pendidikan dan menjadi database milik mereka.

“Dalam hal ini, FOKSA mengajak masyarakat untuk berani menyuarakan aspirasi, agar hak-hak mereka terhadap pendidikan yang berkualitas terpenuhi,” jelas Hendrik dalam keterangan persnya.

Menurut Hendrik, hal tersebut penting untuk dilakukan, karena 1 dari 5 ruang kelas sekolah dasar di Kabupaten Serang dalam kondisi rusak berat, sehingga menyebabkan 3 dari 10 siswa terancam keselamatan dan kesehatannya.

“Adanya aspirasi dari masyarakat diharapkan dapat membantu pemerintah, khususnya Pemerintah Kabupaten Serang, dalam pemetaan ruang kelas rusak dan menentukan prioritas perbaikan atau pembangunan. Sehingga target dari pemerintah, khususnya Pemerintah Kabupaten Serang, dapat tercapai dan pemberitaan terkait ruang kelas rusak di media massa tidak akan lagi dijumpai di kemudian hari,” tutur Hendrik.

Direktur Eksekutif PATTIRO Banten, Ari Setiawan menilai, besar Anggaran Pendidikan selalu berkurang dari tahun ke tahun dalam tiga tahun terakhir. Pada tahun 2015, Anggaran Pendidikan setara dengan 37persen, tahun 2016 setara dengan 32 persen, sedangkan pada tahun 2017 setara dengan 30persen, dan didominasi belanja tidak langsung (BTL)

“Jika dirata-ratakan, rata-rata anggaran BTL dalam tiga tahun terakhir mencapai 81,97persen dari Anggaran Pendidikan, sementara rata-rata anggaran belanja langsung-nya hanya mencapai 18,03 persen dari Anggaran Pendidikan,” paparnya.
Ia juga menyatakan, serapan anggaran untuk kegiatan yang berbentuk fisik pada tahun 2016 hanya mencapai 85 persen, sementara serapan anggaran untuk kegiatan non-fisik mencapai 98persen.

“Pemkab Serang perlu meningkatkan alokasi anggaran dan serapan anggaran pada kegiatan dengan hasil berbentuk fisik yang biasanya berkaitan dengan rehabilitasi dan pembangunan ruang kelas,” tandasnya.

Kegiatan ini juga diikuti oleh mahasiswa dari Ikatan Mahasiswa Pendidikan Luar Sekolah UNTIRTA dan Ikatan Mahasiswa Baros, serta Badan Eksekutif Mahasiswa UIN. (Lb/Herlin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here