1860 Hektar Lahan Pertanian di Kabupaten Serang Kering

Ilustrasi

Sering, Liputanbanten,co.id – Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Serang mendata hingga saat ini kekeringan di wilayahnya terus bertambah. Data terakhir menyebutkan 1860 hektar sudah mengalami retak retak dan 920 hektar diantaranya sudah mengalami gejala kekeringan ringan.

“Kalau yang terkena itu kemarin ada 1860 hektar, tapi yang kemudian sudah masuk status kekeringan itu 920 hektar. Jadi maksudnya kemarin tanah sudah retak retak 1860 hektar sekarang lanjutan tanah retak retak sudah menunjukan gejala kekeringan tapi masih ringan statusnya itu ada 920 hektar,” ujar Kepala Bidang Tanaman Pangan Holtikultura pada Dinas Pertanian Kabupaten Serang Zaldi Dhuhana.

Zaldi mengatakan, jumlah tersebut tersebar di 20 kecamatan. Namun yang terparah diantaranya ada di Kecamatan Bandung 200 hektar, Kramatwatu 140 hektar, Kopo dan Jawilan rata rata diangka 100 hektar.

“Sejauh ini kami masih terus memantau kondisinya dan kita sekarang sudah menurunkan brigadier alsintan pompa air sebanyak 10 unit ukuran 4-6 inch. Jadi kalau masih ada sumber air untuk penyelamatannya kita keluarkan pompa airnya,” katanya.

Ia menuturkan, usia padi yang terdampak kekeringan itu berumur antara 0-85 hari. Padahal kata Zaldi, fase kritis tanaman membutuhkan air itu saat pertumbuhan awal dan saat fase genetic mulai pembentukan dan pengisian malai (bulir). “Usia kritis itu 75-85 hari. Sedangkan kalau 95 hari itu sudah sedikit air yang dibutuhkannya,” ucapnya.

Zaldi menjelaskan, jika kondisi ini terus bertahan dalam rentang waktu sebulan kedepan, maka padi tersebut akan terancam puso. Sedangkan saat ini walau sudah masuk kekeringan tapi sifatnya masih ringan. “Nah ini kami masih terus memantau. Tapi kalau kondisinya sama tidak ada hujan sama sekali maka bisa puso,” katanya.

Kondisi kekeringan ini semakin parah dengan masih adanya buka tutup saluran irigasi Pamarayan Utara dan Timur. Sedangkan untuk Pamarayan Barat ditutup total sejak Agustus-September sesuai kesepakatan.

“Karena kan dulu waktu bulan Juli sedang membutuhkan air dan meminta kepada pihak ketiga yang melakukan perbaikan Pamarayan barat dan utara minta dibuka sama pengelola dan balai besar itu dibuka selama dua bulan full tapi nanti bulan Agustus-September mau ditutup full,” tuturnya.

Ia mengatakan, pada bulan Oktober-Desember baru kemudian akan dibuka setiap 10 hari sekali. Menurut dia, status kekeringan yang masih ringan ini berarti jika masih ada sumber air yang bisa dimanfaatkan maka bisa coba untuk dialiri.

“Tapi kalau kondisinya apalagi ditengah perbaikan bendung pamarayan seperti ini ya mungkin risikonya bisa jadi kalau sebulan kemudian kondisinya tetap bisa jadi puso beneran,” ujarnya.

Zaldi menuturkan, sebenarnya sejak dua bulan belakangan pihaknya sudah menyampaikan kepada masyarakat melalui petugas lapangan agar tidak menanam padi terlebih dahulu. Selama 3 bulan ini para petani diimbau untuk mengganti tanaman padi dengan tanaman yang lebih sedikit membutuhkan air. “Seperti Jagung, Kedelai atau kacangan,” ucapnya.

Ia menjelaskan, berdasarkan data dari BMKG, curah hujan selama Agustus ini di Kabupaten serang turun dibawha 100 mm per bulan. Sedangkan di September sudah lebih turun lagi diangka 50 mm per bulan. Diperkirakan pada Oktober akan naik mencapai 150 mm per bulan. “Jadi mungkin baru bisa kita mulai persiapan tanam itu di bulan Oktober atau November untuk padi,” tuturnya. (Lb/Yna)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here