Mengenang Kejayaan Banten, FKPT Banten Gelar Dialog Komunitas Seni Budaya

Serang, Liputanbanten.co.id – Mengenang kejayaan Banten dimasala lalu, FKPT Banten menggelar program BNPT RI pada Bidang Budaya Ekonomi dan Hukum, yaitu Dialog Pelibatan Komunitas Seni Budaya Dalam Pencegahan Terorisme Melalui Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme Banten. Kamis kemarin.

Hadir dalam acara tersebut  Plt. Kepala Badan Kesbangpol Provinsi Banten Anwar Mas’ud, Polda Banten, Satrawan dan Budayawan Banten, mahasiswa dan berbagai pelaku seni dan budaya di wilayah Cilegon dan Serang.

Dalam kesempatan tersebut diisi oleh Eka Budianta, Adha Imran narasumber dari BNPT RI serta Sulaiman Djaya S.Th, Sastrawan dan Budayawan Banten dan Arip Senjaya S.Pd. M.Phil Sastrawan dan Akademisi di Banten

Pada acara tersebut FKPT Banten yang diketuai Brigjen Pol (Purn.) Hj. Rumiah Kartoredjo, SPd menggunakan baju adat Baduy bersama seluruh pengurus FKPT Banten lainnya sebagai salah satu bentuk bahwa melalui kearifan lokal dalam seni dan budaya dapat melakukan cegah dan tangkal radikalisme.

Dalam sambutannya Ketua FKPT Banten menyatakan maraknya radikalisme dan terorisme sehingga situasi dan kondisi saat ini betul-betul memerlukan keprihatinan dan kebijakan dari semua elemen. karena pencegahan ini harus di cegah dari sejak dini. Kebersamaan masyarakat Banten, ulama, mahasiswa budayawan dan sastrawan Banten untuk bersama menjaga kondusifitas negeri ini, sehingga penerus bangsa terjaga dari terorisme dan radikalisme.

Sementara itu, Anwar Mas’ud menyatakan kegiatan komunitas seni budaya ini mempunyai nilai yang sangat penting, karena indonesia adalah negara yang dilahirkan dengan kesenian juga didalamnya, seperti yang dilakukan oleh wali sembilan dahulu. Nilai kedamaian diperoleh melalui kesenian. Patut untuk kita ingat menjadi suri tauladan yang baik untuk para pencinta sastra seni dan seniman. Untuk itu marilah kita jaga para pencinta seni dan budaya juga tidak lupa para penggunanya. Saya kira ini sangat tepat untuk disosialisasikan ke khalayak masyarakat luas demi menjaga negeri yang kita cintai ini, ujarnya.

Sementara itu Narasumer BNPT RI, Eka Budianta mengatakan bahwa Banten merupakan negeri penyair. Bagi saya lebih cocok bicara mengenai seni budaya, Banten adalah Tempat berlindung di hari tua sampai akhir menutup mata, seorang tokoh Banten Nawawi Al Bantani Lahir di Serang, tahun 1813 Wafat di Mekah 1897 adalah orang yang sangat populer di dunia, mempunyai banyak karya yang menciptakan karakter bangsa yang bermartabat, berbudi pekerti dan bersahaja.

Kehebatan sastrawan Banten kini terlihat dari sebanyak 11 penyair Banten mengikuti Musyawarah sastrawan Indonesia (Munsi), diantaranya, Abah Yoyok, Zaenal Radar T, Ahmadun Yosi Herfanda, Dhenok Kristianti, Heryus Saputra, Ahmad Wayang, Kurniawan Junaedhie, H. Shobir Poer, Rini Intama, dan Nana Sastrawan. (Juli 2017)

Dengan demikian Pikiran dan praktik sistem seni budaya dapat merubah suasana kegembiraan untuk menjadikan persaudaraan yang erat dan saling menghargai, ujar Eka.

Selanjutnya Adha Imran menjelaskan Seni pada mulanya adalah proses dari manusia, seni bisa dilihat dalam intisari ekspresi dari kreativitas manusia. Seni juga dapat diartikan dengan sesuatu yang diciptakan manusia yang mengandung unsur keindahan. Seni sangat sulit untuk dijelaskan dan juga sulit dinilai. Bahwa masing-masing individu artis memilih sendiri peraturan dan parameter yang menuntunnya atau kerjanya, masih bisa dikatakan bahwa seni adalah proses dan produk dari memilih medium, dan suatu set peraturan untuk penggunaan medium itu.

Arif Sanjaya lebih memberikan penekanan bahwa Realitas adalah yang ada dan segala yang ada Salah satu realitas dibangun oleh bahasa sastrawi dalam satu fase kekuasaan: ketidakmauan kita terusik kedamaian sejati adalah kesetiaan, ketaatan, kepatuhan, kepenuhan, keutuhan (pra-oedipal —Lacanian)

Acara ditutup dengan parade puisi yang dibawakan oleh penyair Banten, Sulaiman Djaya S.Th yang memabwakan puisi “Pamflet Penyair”. Dilanjutkan puisi yang dibawakan oleh salah satu peserta yaitu KH. Adung dari MUI Banten yang berjudul Peci putih, penyair muda dari Unbaja Aryani dan Tajudin yang membawakan puisi karya Asqo L. Fatir yang berjudul BAYANGAN IDONESIA.

Pada sesi akhir, FKPT Banten berharap bahwa dengan menyalakan lagi seni dan budaya terutama dari sastra, dapat menjadikan masyarakat Banten memiliki hati yang lembut dan memiliki kasih sayang sehingga tidak menjadi masyarakat yang tidak mudah tersulut oleh berbagai provokasi dan dapat menjaga keutuhan NKRI.

Ada sisi lain yang lebih membumi puisi karya toni anwar salah satu pengurus FKPT Banten yang dibacakan berjamaah.  tidak kalah menarik dengan sastrawan dan budayawan lainnnya dimasna puisi karya toni anwar dibacakan bergantian oleh Rumiah, Amas, Alamsyah, Edah, Eneng Purwanti, dll yang pada intinya mengajak masyarakat untuk bersama melakukan pencegahan terorisme melalui karya seni. (Lb/Herlin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here