SMK Penyumbang Pengangguran Tertinggi di Banten

Asisten Daerah Bidang pembangunan dan Perekonomian Banten, Ino S. Rawita. (Liputanbanten)

Serang, Liputanbanten.co.id – Membludaknya Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) pasca ditetapkannya kebijakan terkait peningkatan program pendidikan vokasi ternyata berdampak terhadap makin meningkatnya pula sumbangsih lulusan SMK di Banten terhadap tingkat pengangguran terbuka.

Hal tersebut disampaikan oleh Asisten Daerah Bidang Pembangunan dan Perekonomian Banten, Ino S. Rawita, ia menyatakan, hal ini dampak transisi dari berhasilnya program wajib belajar 9 tahun, sehingga menyebabkan ada program yang diharapkan dapat mempersiapkan SDM untuk memiliki keterampilan yang siap pakai di dunia kerja.

“Ini akibat dulu ada program dari Dikmenjur (Direktorat Menengah Kejuruan,red) dari Kemendiknas, bahwa SMK harus lebih banyak dari SMA, karena dengan membudaknya wajar Dikdas 9 tahun, hingga banyak anak-anak yang tidak bisa tertampung, sehingga dalam rangka ada perkembangan anak-anak terampil tingkat dasar, akhirnya dimana-mana mendirikan SMK,” jelas Ino, minggu (10/12/2017)

Menurutnya, di Banten pun saat ini mengalami situasi yang sama, dimana terdapat lebih banyak SMK ketimbang SMA. Namun ia menyayangkan, dengan banyaknya SMK ini tidak diiringi dengan kualitas sarana dan prasarananya.

“Tidak memperhitungkan guru kejuruannya dari mana, guru otomotif, guru komputer atau guru apa yang teknis kejuruannya tidak dipikirkan, termasuk juga alat, di kampung dimanapun didirikanlah SMK,” ungkapnya.

Ino memaparkan, dengan kondisi tersebut pada akhirnya menyebabkan lulusan-lulusan dari SMK tidak produktif. Ia menyatakan, hal ini memang turut juga difokuskan oleh Gubernur Banten dan Wakil Gubernur.

“Memang akhirnya yang terasa saat ini (jumlah pengangguran banyak dari SMK,red), makanya pak gubernur dan wakil gubernur berencana akan menata kembali SMK, dan kemarin sempat terdengar juga, Dikmenjur akan mengadakan merjer SMK,” lanjut Ino.

Ia mengatakan, merjer (penggabungan,red) ini dilakukan untuk SMK-SMK yang jumlah muridnya sedikit, atau ada ketidakjelasan kurikulumnya. Menurutnya, saat ini dengan tidak jelasnya kondisi SMK, pada akhirnya membuat lulusannya tidak produktif.

“Masa jurusan otomotif tidak bisa buat bengkel, tidak bisa buka apa-apa karena pusing, kan repot. Oleh sebab itu, kedepannya nanti perusahaan-perusahaan akan diupayakan untuk membantu SMK-SMK di Banten tersebut,” katanya

“Jadi istilahnya seperti bapak angkat SMK, jadi nanti perusahaan-perusahaan mempunya binaan-binaan di SMK, minimal untuk magang dulu saja, karena selama ini banyak yang tidak nyambung magangnya, masa SMK magang di kantor dan dinas saja, seharusnya seperti SMK Kelautan, magangnya di pelayaran yang mengolah kelautan,” tandasnya. (Lb/Herlin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here