Korban Letusan Gunung Selandia Baru Alami Luka Bakar Hebat

Liputanbanten.co.id – Puluhan orang terluka setelah gunung berapi di Selandia Baru tiba-tiba meletus pada Senin (9/12/2019). Mereka mengalami luka bakar hebat di sekujur tubuh, beberapa dalam kondisi kritis.

Menurut laporan Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern, ada 30 orang yang dirawat di rumah sakit akibat erupsi gunung White Island. Mereka adalah para turis yang berada di lokasi ketika gunung meletus tanpa ada peringatan.

Lima orang korban luka dilaporkan dalam kondisi kritis. Saat ini tercatat lima orang meninggal dunia. Delapan orang masih hilang, peluang mereka ditemukan hidup-hidup sangat kecil. Geoff Hopkins, 50, salah satu korban selamat mengatakan para turis berlarian atau menceburkan diri ke laut ketika erupsi terjadi.

Saat diselamatkan di kapal, mereka dalam kondisi luka bakar hebat, dari wajah hingga kaki. Luka mereka ditangani dengan disiram air tawar yang banyak tersedia di kapal, beberapa dalam kondisi luka parah.

“Mereka memakai celana pendek dan t-shirt, banyak kulit yang terekspos sehingga terbakar parah. Wajah mereka juga terbakar hebat,” kata Hopkins kepada media NZHerald.

 Erupsi gunung mengeluarkan abu panas dan melontarkan bebatuan hingga lebih dari 3.000 meter ke udara. Hopkins mengatakan, para korban juga mengalami luka bakar hebat di balik pakaian mereka.

“Pakaian mereka terlihat baik-baik saja, tapi ketika dibuka…saya tidak pernah melihat luka seperti itu,” lanjut dia.

Delapan turis yang masih hilang berasal dari Australia, Selandia Baru, Amerika Serikat, Inggris, China, dan Malaysia. Letusan besar gunung White Island terakhir terjadi pada 1914 yang menewaskan 12 penambang belerang. Pada April 2016, letusan kecil sempat terjadi.

Gunung yang bernama ‘Whakaari’ dalam bahasa Maori ini menjadi salah satu objek wisata favorit. Setiap tahunnya ada lebih dari 10 ribu wisatawan yang mengunjungi gunung ini.

Ray Cas, profesor dari Monash University, Australia, mengatakan seharusnya gunung White Island tidak menjadi objek wisata. Menurut dia, gunung tersebut menyimpan potensi bahaya besar.

“Bencana tinggal menunggu terjadi saja dalam beberapa tahun ini. Setelah mengunjunginya dua kali, saya merasa terlalu bahaya untuk mengizinkan turis setiap hari mengunjungi pulau itu dengan kapal atau helikopter,” kata Cas.(Lb/Kmp/Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here