Guna Mengikis Paham Radikalisme, DPD GMNI Banten Gelar Dialog Publik

Serang, Liputanbanten.co.id – Pancasila merupakan dasar negara Indonesia yang sudah disepakati bersama, kendati dalam prakteknya Pancasila belum sepenuhnya bisa dijalankan secara substansif.

Hal tersebut mencuat saat dialog publik dan buka bersama yang digelar oleh Dewan Pimpinan Daerah Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesaia (DPD GMNI) Provinsi Banten disalah satu cafe di Kota Serang.

Akademisi Untirta yang juga merupakan narasumber Ikhsan Ahmad menyampaikan, bahwa saat ini substansi pancasila dalam praksisnya semu. Hal itu ia gambarkan dengan kondisi perpolitikan, ekonomi dan perilaku sehari-hari bangsa Indonesia saat ini.

Sehingga, menurutnya pancasila sebagai ideologi dan dasar negara seolah hanya menjadi tameng bagi elit politik semata.

“Ketika dihadapkan dengan sistem kapitalisme tidak ada yang berdiri tegak melawan, gak ada,” kata Ikhsan, Minggu (10/6)

“Sistem mana kemudian yang menjadi indikator, menjadi parameter, ada gak yang berlaku dari pancasila, gak ada,” ucapnya.

Maka, menurutnya yang harus dilakukan saat ini adalah bagaimana menggali lebih dalam lagi makna dari pancasila agar tidak terjebak pada hal-hal simbolis

“Substansinya itu adalah, kita tidak boleh berhenti pada suatu simbol, mari kita gali substansinya lebih dalam,” ujarnya.

Narasumber lainnya yang merupakan salah satu pengurus FKUB yang juga akademisi Al-Khairiyah, Alwiyan mengatakan pemahaman itu harus kembali dijalankan dengan sebuah struktur yang sistematis. Seperti dimulai dari kurikulum dipendidikan.

“Gimana orang mau berpemahaman pancasila orang P4 sudah gak ada, PMP sudah gak ada. Kita ini lemahnya tidak ada struktur untuk menciptakan kultur pancasila,” tambahnya

Ia juga memaparkan bahwa tumbuhnya kelompok-kelompok radikal karena pemahaman akan pancasila dan agamanya kurang kuat. Maka, dikatakannya bahwa jika ingin memahami pancasila dari sisi agama islam harus pula didasari dengan pemahaman agama yang kuat.

“Mari kita selaraskan pancasila dengan nilai-nilai humanisme dengan syariat,” paparnya (Lb/Ar).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here