”Syahwat Kepahlawanan”

Eko Supriatno. (Foto: Ist)

Oleh: Eko Supriatno, S.IP, M.Pd.

Liputanbanten.co.id – Detik-detik hari pahlawan yang jatuh pada tanggal 10 November setiap tahunnya merupakan moment ”nutrisi” maha penting bagi seluruh rakyat negeri ini.

10 November identik dengan pertempuran Surabaya, Pertempuran Surabaya merupakan peristiwa sejarah perang antara pihak tentara Indonesia dan pasukan Belanda. Peristiwa besar ini terjadi pada tanggal 10 November 1945 di kota Surabaya, Jawa Timur. Pertempuran ini adalah perang pertama pasukan Indonesia dengan pasukan asing setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dan satu pertempuran terbesar dan terberat dalam sejarah Revolusi Nasional Indonesia yang menjadi simbol nasional atas perlawanan Indonesia terhadap kolonialisme.

”Proses Ikhtiar” para pahlawan pada masa itu dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, sungguh luar biasa !, mereka ”ikhlas” mengorbankan segala daya dan upaya baik; fisik, tenaga, pikiran, harta benda, jiwa, dan raga sampai titik darah penghabisan, dengan tujuan ”mulia”, untuk mewujudkan satu kata yaitu ”kemerdekaan”.

Karena, seperti dikatakan orang, kemerdekaan adalah nikmat yang paling mahal harganya, sedangkan Keterjajahan adalah ”sakit” yang paling memedihkan

Menurut Penulis, ’’merdeka’’ adalah political independence. Artinya, tidak bergantung secara politik, bebas untuk menentukan keinginan, atau cita-cita sebagai sebuah bangsa dan negara.

Sementara ’’kemerdekaan’’ adalah jembatan emas (jalan yang sangat vital dan berharga) untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan. Kemerdekaan bukanlah tujuan akhir, tapi tujuan antara dari sebuah perjuangan untuk mewujudkan cita-cita dengan kemerdekaan.

Kemerdekaan secara leksikal bermakna kebebasan atau lepas dari ikatan dan kungkungan. Dalam Bahasa Inggris, kemerdekaan identik dengan kata liberty, freedom atau right. Freedom adalah term mengenai kebebasan atau kemerdekaan. Liberty biasanya mengacu kepada kemerdekaan sosial dan politik. Right lazimnya identik dengan garansi-garansi kemerdekaan hak-hak legal spesifik. Ketiga kata tersebut digunakan secara bergantian yang mengacu kepada kemampuan orang untuk berbuat tanpa pembatasan-pembatasan (the ability to act without restrictions).

 Syahwat kebangsaan

Antusiasme menumbuhkan “Syahwat kebangsaan” saat ini tetap meluap di kalangan masyarakat. Sayangnya, nada kegairahan ini tidak diikuti tampilnya sosok ataupun jiwa Syahwat Kepahlawanan yang diharapkan. Sejumlah fakta, menjadi bukti kuat betapa besarnya “libido” publik terhadap pentingnya membangkitkan kembali rasa kebangsaan. Benedict Anderson dalam Imagined Communities (1983) menyebutkan, bangsa adalah suatu komunitas politik yang terbatas dan berdaulat yang dibayangkan. Suatu bangsa dapat terbentuk jika sejumlah warga dalam suatu komunitas mau menetapkan diri sebagai suatu bangsa yang mereka angankan atau bayangkan. Meminjam pendekatan Anderson, rasanya benih-benih kesadaran publik terhadap rasa kebangsaan masih kuat mengakar. Hanya saja, bangsa yang dibayangkan tidak hanya dibangun oleh ”masturbasi kebangsaan” sesaat, tetapi harus dikuatkan juga oleh perekat hadirnya ”nutrisi” komitmen dari penyelenggara negara itu sendiri.

Tapi sayang, komitmen dari penyelenggara negara “kelihatannya” rendah kadar syahwat kepahlawanannya. ”Impotensi Syahwat Kepahlawanan” elit penyelenggara negara secara tidak langsung mempengaruhi narasi kebangsaan yang selama 67 tahun dipertahankan. Menguatnya sikap meminggirkan kepentingan bangsa akan berdampak buruk pada imaji tentang bangunan nasionalisme negeri ini. Nasionalisme dipahami sebagai sebuah kesetiaan tertinggi individu yang diserahkan sepenuhnya kepada negara dan bangsa. Sebelum lahir paham ini, kesetiaan ditujukan kepada berbagai bentuk kekuasaan sosial, organisasi politik, dan kesatuan ideologis atau etnis.

“Impotensi Nasionalisme” atau “Nasionalisme Mandul”, Itulah barangkali sebuah ungkapan yang ditujukan untuk mengungkapkan kondisi masyarakat bangsa Indonesia saat ini yang disinyalir rasa nasionalismenya sudah sangat memprihatinkan, terlebih dikalangan anak muda sebagai generasi penerus perjuangan bangsa ini.

Keterpurukan bangsa ini bukan alasan untuk kita dalam menggali rasa nasionalisme yang dulu pernah ada dan melekat erat pada jiwa rakyat Indonesia. Sebagai warga yang baik, sudah sepantasnya kita berupaya mengembali rasa nasionalisme tersebut sebagai landasan guna terciptanya sebuah pundamental bangsa yang kokoh, karena siapa lagi kalau bukan kita yang harus mempertahankan keutuhan NKRI ini. Diakui pula, persoalan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia sekarang ini sangat kompleks. Masyarakat menghadapi banyak masalah yang pelik. Makanya, penulis meyakini menggairahkan kembali ”syahwat kepahlawanan” dapat menjadi solusi untuk keluar dari masalah bangsa.

Lunturnya nilai-nilai Kepahlawanan ini, jika terus berlarut, bukan tidak mungkin akan membuat bangsa Indonesia kacau-balau. Era modern yang dapat mengakses apa pun dan oleh siapa pun hendaknya harus jadi perhatian semua pihak. Ini agar degradasi moral yang kini sudah mulai dialami generasi muda yang notabene jadi penerus bangsa tidak semakin menentu.

Nutrisi Kepahlawanan

Rasa nasionalisme “kini” telah terkalahkan oleh sentimen-sentimen kedaerahan, kelompok, bahkan sentimen keagamaan. Berbagai gejolak separatisme, seperti di Lampung Selatan, Poso, dan kasus anarkisme atas nama agama menjadi ancaman yang menggoyang bangunan nasionalisme negeri ini.

Mayoritas bangsa ini, secara umum, telah mengalami degradasi nilai-nilai kecintaan dalam bentuk patriotisme, kepahlawanan dan kebangsaan. Tak hanya gerusan arus budaya asing yang menjadi sebab, melainkan kesadaran kolektif yang membentuk aras kesadaran bernegara kita—khususnya kaum muda—yang tak bangga lagi menyanyikan “Indonesia Raya” sebagai pemersatu bangsa, atau “berjiwa merah putih” sebagai personifikasi dari kecintaan akan tanah air.

Jika demikian, alangkah baiknya jika kita kembali melakukan permenungan mendalam akan nasib eksistensi bangsa kita ke depan, yang secara menyedihkan sudah banyak ditanggalkan justru oleh kaum penerusnya sendiri. Sepatutnya jika kita membuka lembar-lembar historisitas yang mampu mentrigger semangat kebangsaan.

Menurut penulis, setidaknya, ada tiga ”permenungan yang mendalam” dari tulisan “syahwat kepahlawanan” ini. Atau penulis menyebutnya Tiga ”Nutrisi Kepahlawanan”;

Pertama, Indonesia membutuhkan gerakan baru yang konkret untuk dapat mengikis degradasi moral dan akhlak yang sedang terjadi. Gerakan baru ini harus dimotori orang-orang yang benar-benar peduli pada kondisi bangsa dan negara serta berkemauan tinggi. Gagasan gerakan baru ini didasari pemikiran untuk membangkitkan kembali rasa nasionalisme dikalangan pemuda, pelajar kita yang sejak bergulirnya Reformasi ini banyak hal-hal yang diabaikan bahkan ditinggalkan oleh mereka, salah satunya rasa bangga terhadap bangsa Indonesia yang terwujud dalam membumikan ”nasionalisme kebangsaan”.

Kedua, Pemuda harus mampu mengendalikan perubahan. Kalau kita lihat sejarah perubahan di negeri ini sejak masa Budi Utomo hingga Reformasi 1998,setiap perubahan bangsa ini, tokoh pemikir yang menginspirasi adalah tokoh pemuda.

Menurut penulis, “Syahwat” kebangsaan generasi muda saat ini telah mengalami ”impotensi” atau kemunduran (degradasi). Berdasarkan fakta di lapangan, banyak kalangan pelajar baik tingkat SD/SMP, khususnya di luar perkotaan tidak tahu simbol-simbol negara termasuk juga lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Berbanding terbalik dengan pemuda dulu, hanya melalui kata-kata ”pemuda” nan patriotik segala komponen bangsa bersatu padu bergotong royong, bahu membahu menuju satu sasaran yakni meraih kemerdekaan, bebas dari belenggu penjajahan kolonialisme.  ”Seruan merdeka pemuda” dan maju terus pantang mundur menggema dimana-mana baik saat di medan pertempuran maupun tatkala para anak bangsa saling bertemu di jalan, di pasar, di pusat keramaian,  di kampung-kampung pelosok desa tak henti-hentinya rakyat dan pejuang kemerdekaan mengumandangkannya. Akhirnya dengan teriakan yel-yel ”Merdeka atoe Mati” semangat pantang menyerah merasuki jiwa sebagian besar anak bangsa dan membawa bangsa ini berhasil merebut kemerdekaan dan mempertahankan kedaulatannya setelah memproklamasikan kemerdekaan RI oleh dwi tunggal Soekarno-Hatta (yang kebetulan ”baru detik ini” dianggap menjadi pahlawan).

Ketiga, Semua pihak harus berperan untuk membina dan membimbing generasi muda agar terus menanamkan bahkan mematrikan nilai-nilai luhur Kepahlawanan yang hanya dimiliki bangsa Indonesia. Pahlawan, sama halnya dengan pejuang, banyak merupakan fungsi kolektivitas politik egaliter-otosentris bernama bangsa. Di sini, hanya karena ada bangsa, maka ada pejuang atau pahlawan. Semakin kuat semangat kebangsaan atau rasa cinta bangsa berperan dalam suatu masyarakat, semakin kuat pula di situ panggilan bagi laku kepahlawanan.

Mari kita bersama-sama berjuang memajukan bangsa Indonesia dengan ”Nutrisi Kepahlawanan”  atau ”Libido Kepahlawanan”.

Penulis adalah : Dosen FISIP UNMA Banten/ Tenaga Ahli DPRD Provinsi Banten

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here