Distan Bagikan Bantuan Perlatan Tahu

Ilustrasi : pembuatan Tahu

Seran, Liputanbanten.co.id – Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Serang membagi-bagikan alat pembuat tahu terhadap lima kelompok tani di Kecamatan Kibin, Gunungsari, Pabuaran, Pamarayan dan Kramatwatu‎. Pembagian peralatan tersebut dilakukan untuk membantu para petani dalam menjual hasil panen kedelai.

Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Holtikultura pada Distan Kabupaten Serang, Zaldi Dhuhana mengatakan, bahwa sampai saat ini para petani masih banyak yang enggan untuk bertani kedelai. Meskipun dari pemerintah pusat tahun ini akan ada bantuan benih untuk 5000 hektar kedelai.

“Bantuan dari pusat itu untuk padi mendapat 5000 hektar, jagung 8000 hektar dan kedelai 5000 hektar. Cuma kita ingin meningkatkan kerjasama, terutama camat dan kades, karena serang itu yang namanya menanam kedelai selama ini cuma 500 hektar selam setahun, sementara kita dikasih 5000 hektar,” katanya kemarin.

Ia menuturkan, bahwa alasan para petani masih enggan bertani kedelai lantaran belum adanya tengkulak yang menampung hasil panen mereka.‎”Intinya begini, petani akan semangat nanam kalau perniagaannya seperti petani padi, begitu panen, kumpul pinggir jalan, tengkulang datang dan langsung bayar. Jadi tengkulak ini walaupun dihujat sana sini ada jasanya,” katanya.

Namun agar para petani lebih giat menanam kedelai, ia mengaku sudah membagi-bagikan alat pembuat tahu terhadap kelompok tani yang ada di, Kecamatan Kibin, Gunungsari, Pabuaran, Pamarayan dan Kramatwatu. Pemberian bantuan ini dimaksud agar para pengrajin tahu tersebut membeli hasil petani kedelai di Kabupaten Serang.

“Yang diberi bantuan ini kelompak tani yang pintar usaha, karena butuh modal. Jadi teman-teman yang mendapat  bantuan kita dorong untuk membeli bahan baku ke petani, sehinga minat petani kedelai semakin meningkat, apalagi petani itu kan pengennya begitu panen langsung dibayar,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, di‎ Kabupaten Serang sendiri banyak memiliki sentra kedelai, diantaranya Kecamatan Pamarayan, pabuaran, Baros, Gunungsari, Kopo, Jawilan, Ckeusal dan Pulo Ampel.

“Yang jelas kedelai itu bukan daerah sawah, jadi kita harus membuat skala prioritas, agar kedelai itu tidak impor, sesuai ‎kebijakan Kementrian,” pungkasnya. [Lb/Yna]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here