Bandan Karantina Cilegon Musnahkan Sapi Bali Mengandung Penyakit

Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas II Cilegon Raden Nurcahyo Nugroho. @Foto: Ajis/Liputanbanten.co.id

Cilegon, Liputanbanten.co.id – Badan Karantina Pertanian Kota Cilegon  melalui Balai Karantina Pertanian Kelas ll Cilegon melakukan tindakan karantina pemotongan hewan bersyarat terhadap 1 ekor sapi Bali. Itu dilakukan lantaran berdasarkan hasil pemerikaan Laboratorium, positif CFT ditemukan penyakit Zoonosis Brucellosis.

Kepala Balai Karantina  Pertanian Kelas II Cilegon Raden Nurcahyo Nugroho mengatakan, BKP Kelas II Cilegon telah berhasil mencegah terjadinya serangan/ penularan Brucellosis ke Sumatera. Pemotongan bersyarat dihadiri dan disaksikan oleh petugas Karantina, perwakilan pemilik sapi, Dinas Peternakan, Balai Besar Uji Standar Karantina Pertanian (BBUSKP).

“Tindakan karantina pemotongan bersyarat di|akukan setelah dipastikan dengan beberapa tahap pengujian laboratorium. Pemeriksaan Rose Bengal Test/RBT dilakukan di Laboratorium Balai Karantina Pertanian Kelas ll Cilegon dengan hasil uji positif,” ujar Raden, Selasa (12/2/2019).

Selanjutnya dilakukan pengujian Complement Fixation Test (CFT) di Balai Veteriner Subang dan Balitvet Bogor dengan hasil keduanya menyatakan positif. Sebelumnya pada tanggal 31 Januari 2019, petugas Karantina memeriksa 64 ekor sapi ras bali asal Bekasi yang hendak dikirim ke Ogan Ilir.

Setelah pemeriksaan dokumen dan pemeriksaan fisik, Petugas melakukan pengambilan sampel darah 100% semua hewan untuk dilakukan pengujian Rose Bengal Test (RBT). Hasilnya dari 64 ekor sapi tersebut menunjukkan 2 ekor positif RBT.

Sebanyak 62 ekor yang negative uji kemudian diberikan sertifikat kesehatan hewan, sedangkan 2 ekor yang positif tetap dalam pengawasan petugas di lnstalasi Karantina Hewan. Sampel darah dari 2 ekor sapi positif uji RBT kemudian dikirim ke BVet Subang dan Balitvet Bogor untuk dilakukan pengujian CFT Ianjutan dan didapat hasil 1 ekor positif CFT.

Dikatakanya, Pemotongan bersyarat dilakukan secara hati-hati dengan memperhatikan berbagai faktor seperti kemungkinan tercemarnya lingkungan harus dicegah dan dihindari, tempat pemotongan harus segera dibersihkan dan disucihamakan.

“Perlu diperhatikan adanya cairan exudat dan sarang-sarang nekrose pada organ-organ viseralnya, dalam keadaan demikian seluruh organ viscera! Iimfoglandula dan tulang harus dimusnahkan sedangkan daging boleh dikonsumsi setelah di|akukan pelayuan dan dimasak. Brucellosis merupakan penyakit bakterial yang utamanya menginfeksi sapi, kerbau, kambing, domba, dan babi. Di Indonesia, Brucellosis paling umum ditemukan pada ternak sapi dan sering dikenal sebagai penyakit Keluron Menular,”katanya.

“Penyakit ini dapat ditularkan ke manusia atau bersifat zoonosis. Pada hewan betina, penyakit ini dicirikan oleh aborsi dan retensi plasenta, sedangkan pada jantan dapat menyebabkan orchitis dan infeksi kelenjar asesorius. Brucellosis pada manusia dikenal sebagai undulant fever karena menyebabkan demam yang undulans atau naik-turun,”terangnya. (Lb/Aa/Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here