Debat Terakhir, Investasi Asing Jadi Isu Panas

Jakarta, Liputanbanten.co.id – Malam ini tepatnya Hotel Sultan, Jakarta Pusat, akan berlangsung debat terakhir Calon Presiden dan Wakil Presiden. Debat mengambil tema Ekonomi dan Kesejahteraan Sosial, Keuangan dan Investasi, serta Perdagangan dan Industri.

Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Aviliani, memprediksi Investasi asing masih akan menjadi isu hangat (hot issue) dalam debat kelima ini. Menurutnya, masyarakat perlu mengetahui solusi dan strategi para capres dan cawapres dalam mengelola investasi asing di Tanah Air, khususnya untuk mendorong lapangan kerja.

“Dianggap kepemilikan dan investasi asing sudah banyak. Harus dijawab bagaimana domestik oke, asing ini ke depan juga tetap oke, tetapi juga di sisi lain menciptakan lapangan pekerjaan,” kata Aviliani kepada kumparan, Sabtu (13/4/2019).

Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Anthony Budiawan, menegaskan pihaknya tidak anti-asing, tapi lebih mendorong investasi lokal. Targetnya, porsi investasi asing dengan investasi domestik dapat setara, yaitu 50:50.

Menurut dia, saat ini kondisi ekonomi sudah tidak sehat lantaran besarnya porsi investasi asing dibandingkan domestik.”Kita memberdayakan dari pengusaha nasional diperkuat jadi subtitusi PMA (Penanaman Modal Asing), PMA ini beban ekonomi selama 13 tahun, investasi PMA dibanding PMDN lebih besar PMA,” katanya.

Tak hanya bicara soal peningkatan investasi asing, Anthony pun mengkritik langkah pemerintah yang kerap mengundang investor asing. Akibatnya, investasi domestik menjadi kian tertinggal, meski dia memahami investasi asing sedang ditingkatkan untuk menutupi defisit transaksi berjalan yang membesar 2018 lalu. “Semakin encourage PMA, ini makin besar. PMA ini sedemikian rupa menguasai ekonomi,” katanya.

Sementara itu, Juru Bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf Amin, Arif Budimanta, menegaskan penanaman modal asing, khususnya yang bersifat jangka panjang sangat penting untuk peningkatan daya saing produk dan sumber daya manusia (SDM).

Menurut dia, sedikitnya ada tiga keuntungan bagi Indonesia jika investasi asing ditingkatkan, yaitu mendatangkan devisa jangka menengah dan panjang, menciptakan lapangan kerja, melibatkan usaha kecil dan menengah (UKM) dalam konteks usaha secara keseluruha.

Arif melanjutkan, menarik investasi asing masuk ke Indonesia merupakan strategi jangka panjang dalam rangka memperbaiki defisit transaksi berjalan atau current account deficit. “Ini adalah upaya dalam rangka jangka panjang untuk perbaiki current account kita yang sejak awal sudah dipahami,” jelasnya.

Selain itu, untuk meningkatkan investasi dari dalam negeri pihaknya juga akan fokus untuk menyelesaikan dua persoalan besar yang selama ini menjadi penghalang bagi industri, yaitu infrastruktur dan regulasi.

“Ini jadi komitmen. Online single submission (OSS) sekarang sudah berjalan dan banyak dibantu Apindo karena ini persoalan meruntuhkan egoisme sektoral di pusat dan daerah. Saya lihat ini bukti bahwa apa yg dikerjakan pemerintah merupakan bagian yang selama ini dihadapi persoalannya oleh dunia usaha,” tambahnya.

Berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), total realisasi investasi yang masuk ke Indonesia mencapai Rp 721,3 triliun sepanjang 2018. Secara rinci, porsi penanam modal dalam negeri (PMDN) mencapai Rp 328,6 triliun atau 45,6 persen dari total investasi.

Sementara, porsi penanam modal asing (PMA) sebesar Rp 392,7 triliun atau 54,4 persen. Jumlah PMDN tersebut tumbuh sebesar 25,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya, sementara jumlah PMA justru turun 8,8 persen dari 2017. (Lb/Kmp/Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here