Cetak Biru Revitalisasi Banten Lama

Penulis: Eko Supriatno, M.Si, M.Pd. (Dosen Universitas Mathla’ul Anwar Banten)

Wahidin Halim selaku Gubernur Banten tidak henti-hentinya mengingatkan jajarannya untuk terus mencermati dan mengantisipasi setiap dinamika yang ada agar kehadiran proyek bernilai ratusan Miliar rupiah itu menjadi pendorong kesejahteraan warga Banten.

Tahun 2019 diharapkan ada 1 juta wisatawan mancanegara dan 3 juta wisatawan nusantara yang akan datang ke Banten Lama, dan pemerintah pusat dikabarkan sudah menyiapkan anggaran untuk mendukung infrastruktur pengembangan kawasan Banten Lama.

Kawasan Banten Lama merupakan kawasan yang cukup strategis dan mempunyai banyak potensi karena merupakan salah satu bentuk wisata budaya yang dapat menghadirkan suatu penggabungan religi dan ilmu pengetahuan, hal ini dapat menjadi daya tarik wisata.

Permasalahan Utama Banten Lama, yaitu menuanya kondisi fisik bangunan bersejarah, Daya tarik Banten Lama yang hanya pada Masjid Agung saja, masih banyak pedagang yang mengelilingi bangunan bersejarah yang terlihat kumuh, masih terdapat beberapa jalanan yang rusak menuju kawasan Banten Lama.

Untuk kegiatan ekonomi masyarakat, perlu adanya tempat yang layak dan memadai untuk berjualan. Selain itu, perlu adanya kegiatan pemberdayaan masyarakat yang mengarah pada peningkatan keterampilan teknis guna menciptakan peluang usaha baru, pengembangan usaha, penciptaan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan masyarakat.

Kondisi lingkungan fisik Banten Lama saat ini sudah tidak lagi memprihatinkan. Kondisinya yang tadinya tidak nyaman dari sudut ketersediaan sumber air bersih sekarang banyak air, tingkat kesejahteraan yang tadinya belum mapan kini perekonomian mulai bergeliat, dan pola hidup lama yang tidak sehat dan sudah mengalami banyak perubahan, memberi pengaruh pada persepsi dan perlakuan mereka untuk mendukung terhadap upaya pelestarian dan kebersihan masjid dan situs yang ada di sekitarnya.

Begitupun keamanan, kenyamanan dan ketertiban di Kawasan Banten Lama yang kondisinya sudah cukup baik. Parkiran di kawasan Banten Lama sudah tertib. Parkiran tidak terpusat di satu titik melainkan menyebar. Parkiran tersebut terdapat di lahan-lahan kosong disekitar kawasan yang disediakan dan dikelola oleh masyarakat sekitar.

Secara umum potensi dan daya tarik kawasan Banten Lama terdiri dari beberapa obyek yang bernilai historis tinggi yang dapat dinikmati oleh pengunjung, yaitu terdapat beberapa keraton seperti Surosowan dan Kaibon, Pangindelan, Gedong Ijo, Pangindelan, Museum serta Masjid Agung. Namun kenyataannya, di Kawasan Banten Lama yang menjadi daya tarik sampai saat ini hanya Masjid Agung karena selain pengunjung dapat beribadah, terdapat pula makam-makam para sultan yang menjadi tempat ziarah.

Untuk mengatasinya pastilah diperlukan banyak “inovasi wisata” yang sinergi dengan keberadaan Masjid Agung, serta situasi yang lebih nyaman dan menyenangkan sehingga waktu tunggu untuk ziarah ke pelataran Masjid Agung bisa memberi pengalaman yang tak terlupakan.

Menurut penulis, di samping langkah-langkah yang bentuknya fisik seperti penataan kawasan dan penyiapan infrastruktur untuk mempermudah akses, secara kelembagaan pengelolaan Banten lama juga perlu diperbaiki. Kawasan Banten Lama perlu adanya konsep pengembangan managerial agar kawasan Banten Lama dapat menjadi kawasan obyek wisata yang tertata.

Menentukan Arah Kebijakan

Didalam menentukan arah kebijakan pengembangannya perlu juga dibuatkan pola perencanaan pengembangan berdasarkan data yang ada dan kebutuhan yang harus dipenuhi sebuah provinsi.

Salah satu kebutuhan yang harus perlu dipenuhi oleh provinsi Banten adalah pembangunan pariwisata. Selain itu, pariwisata merupakan salah satu kegiatan yang potensial untuk menambah perekonomian suatu daerah.

Obyek wisata di Banten Lama yang menarik dan menjanjikan untuk dikembangkan di masa depan adalah situs kepurbakalaannya yang merupakan sebuah kawasan kepurbakalaan yang menjadi salah satu obyek wisata budaya unggulan di provinsi Banten.

Sesuai yang tertulis di RTRW Kota Serang dalam Pusat Wilayah Pengembangan (WP) Utara diarahkan dengan fungsi utama pariwisata cagar budaya dan cagar alam, pelabuhan, perdagangan dan jasa, perumahan dan berbagai fasilitas umum. Serta terdapat dalam Perda Kab. Serang No.9 Tahun 1990 yaitu kawasan banten lama memiliki nilai-nilai sejarah dapat dijadikan tempat penalitian dan obyek wisata budaya.

Masa lalu Banten dikenal karena merupakan pusat penyebaran dan kekuasaan Islam di Jawa bagian barat. Sejak saat itu pula Banten mengalami perkembangan di bidang politik, ekonomi-perdagangan, pelayaran, dan sosial budaya yang kemudian mencapai puncaknya pada masa Sultan Ageng Tirtayasa atau Sultan Abdul Fatah (1651-1672).

Selama keberadaannya, kesultanan Banten diperintah oleh 20 sultan dan mencapai puncak kejayaan sekitar abad ke-16 sampai abad ke-17. Ketika itu Banten merupakan salah satu pusat penyebaran Islam pesisir utara Pulau Jawa.

Kini masa lalu kesultanan Banten tersebut hanya menyisakan bukti-buktinya. Bukti peninggalan tersebut merupakan saksi bisu kejayaan masyarakat dan budaya Banten di masa lalu, antara lain berupa bekas kompleks Keraton Surosowan yang dibangun pada masa pemerintahan Maulana Hasanuddin, Mesjid Agung Banten, Kompleks Makam Raja-raja Banten dan keluarganya, Mesjid Pecinan Tinggi, Kompleks Keraton Kaibon, Mesjid Koja, Benteng Speelwijk, Kelenteng Cina, Watu Gilang, Danau Tasik ardi, Mesjid dan makam Sultan Kenari, Jembatan Rante, dan lain lain. Sebagian dari tinggalan budaya masyarakat Banten masa lalu itu telah ditetapkan sebagai “benda cagar budaya”.

Memberi Manfaat

Yang menjadi masalah adalah, bagaimana kita sebagai warga Banten bisa memperoleh manfaat yang optimal pengembangan Kawasan Banten Lama minimal dalam konteks peningkatan kesejahteraan masyarakatnya.

Banten dalam hal ini pemerintah provinsi, tidak bisa hanya berdiam diri berharap ada ”trickle down effect” dari proyek pengembangan Kawasan Wisata Banten Lama.

Harus ada perencanaan yang cermat dan langkah konkret dari Pemprov Banten untuk mengantisipasi melonjaknya jumlah pengunjung ke Kawasan Banten Lama agar para wisatawan yang datang merasakan pengalaman yang menarik, dan warga Banten mendapat bagian yang sepadan dari “kue pariwisata” yang ada.

Pemprov sepantasnya menjadi motor penggerak utama bagi seluruh pemangku kepentingan agar kita bisa berperan dan menjadi pemain, bukan menjadi penonton berkembang pesatnya kawasan Banten Lama.

Waktunya untuk duduk bersama, melakukan perencanaan dan membahas apa-apa yang patut dan mendesak untuk dilakukan mengingat program pembangunan kita alurnya tahunan, sehingga menuntut persiapan matang sebelum dilakukan penganggarannya.

Penulis berkeyakinan, banyak sumber daya dan potensi hebat yang tersedia, namun seringkali tidak bisa berbuah pada waktunya karena koneksitas dan pemahamannya gagal saat momentumnya terjadi.

Tidak harus berebut Banten Lama milik siapa, tapi semua mendapat apa. lebih penting bagaimana sepanjang rute itu terjadi pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan warga yang signifikan.

Juga tidak perlu berdebat itu proyek siapa, tapi bagaimana proyek  itu memberi manfaat bagi Banten dan khususnya warga di sekitar proyek.

Sia-sialah pengorbanan warga yang tergusur, alokasi dana yang besar dan perhatian publik serta keringat pekerja yang dicurahkan, kalau rakyat yang ada di sekitarnya tidak mendapat manfaat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here