Diduga Akibat Buah Leci, Puluhan Anak India Meninggal

Liputanbanten.co.id – Dalam dua pekan terakhir, sebanyak 43 bocah di negara bagian Bihar India kehilangan nyawa. Diduga mereka tewas akibat penyakit otak karena mengonsumsi leci.

Otoritas kesehatan di Negara Bagian Bihar menyebut, anak-anak itu meninggal dunia setelah mendapat perawatan di rumah sakit di kota Muzaffarpur. Kota itu dikenal sebagai salah satu penghasil leci terbesar di seluruh India.

Hingga kini, pemerintah negara bagian belum berkomentar mengenai wabah yang menyebabkan puluhan anak-anak meninggal dunia. Namun, kebanyakan korban, kehilangan nyawa disebabkan kekurangan kadar gula, hipoglikemia.

Meski demikian, pihak medis menyebut selama beberapa pekan lebih 150 anak dirawat karena menderita gejala sindrom ensafalitis akut (AES). hipoglikemia merupakan salah satu penyebab wabah yang dikenal juga dengan radang otak.

Setiap tahunnya sejak 1995 di Muzaffarpur selalu terjadi wabah AES. Penyebaran AES pun bertepatan dengan musim panen leci. Studi yang dilakukan oleh peneliti AS 2014 lalu, salah satu pemicu AES adalah racun di dalam buah leci, demikian dilansir dari Independent, Sabtu (15/6/2019).

Pada 2014, peneliti Current Science mengonfirmasi hubungan leci dengan penyakit AES. Namun, mereka belum bisa memastikan apakah penyebab AES sama dengan wabah muntah Jamaika (JVS). Wabah itu berlangsung selama musim panen buah ackee di Jamaika.

Dalam sebuah penelitian, di buah leci dan ackee ditemukan zat beracun, MCPA. Zat itu dapat memicu hipoglikemia. Penelitian tersebut telah diujicobakan kepada hewan. Peneliti-peneliti itu juga belum bisa membuktikan dari mana racun itu muncul. Apakah dari biji atau daging serta mana lebih berbahaya buah mentah atau masak. (Lb/Kmp/Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here