Kekuatan Global Pengaruhi Kekuatan Energi Angin

Ilustrasi

Jakarta, Liputanbanten.co.id – Ladang angin merupakan salah satu kunci untuk mengatasi perubahan iklim di dunia saat ini. Sayangnya, pemanasan global mempengaruhi kekuatan energi angin yang melintasi garis lintang utara.

Ladang angin adalah kumpulan turbin angin di suatu tempat yang bertujuan untuk menghasilkan energi. Penggunaan turbin angin diharapkan menjawab permasalahan iklim dunia karena angin merupakan energi terbarukan.

Sebuah penelitian terbaru meneliti dampak kenaikan suhu global terhadap energi angin dan perubahan besar yang akan terjadi pada akhir abad ini di lokasi ladang angin dengan jumlah turbin yang banyak.

Sebagai informasi, ladang angin telah tumbuh lebih dari lima kali lipat dalam satu dekade terakhir. Biaya yang murah adalah alasan utama banyak negara dan daerah beralih pada energi yang satu ini.

Dampaknya cukup nyata, yaitu pengurangan emisi karbon dari pembakaran bahan bakar fosil.

Sayangnya, kekuatan energi angin sekarang menurun. Bahkan, di Amerika Serikat bagian tengah, kekuatan angin turun hingga seperlima.

“Kami menemukan beberapa perubahan mendasar dalam energi angin,” kata Kristopher Karnauskas dari University of Colorado, Amerika Serikat dikutip dari The Guardian, Senin kemarin.

“Tapi bukan berarti kita tidak harus berinvestasi dalam tenaga angin,” imbuh Karnauskas.

Dengan kata lain, perubahan semacam ini perlu diperhitungkan dalam merencanakan ladang angin di masa depan. Karnauskas juga mengingatkan kita untuk menilai seberapa banyak ladang angin secara khusus dapat mengurangi emisi global.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Geoscience ini menggunakan model iklim yang sama dan memproyeksikan emisi di masa depan sebagai panel antar-pemerintah untuk perubahan iklim PBB.

Hilangnya energi angin terjadi di sepanjang wilayah dari Amerika Serikat tengah ke Inggris, Rusia, dan Jepang, baik dalam kondisi emisi menengah dan tinggi. Jika emisi tetap tinggi, peningkatan energi angin masih terlihat di beberapa wilayah.

Penurunan angin terbesar terjadi di Jepang, di mana pembangunan ladang angin mulai akan dipercepat. Energi angin di negara tersebut turun sebesar 58kW atau sekitar 10 persen.

Lain halnya di Amerika Serikat tengah. Mereka mengalami penurunan sebesar 49kW atau sekitar 17 persen. Di Inggris, energi angin diperkirakan akan turun sekitar 36 kW atau 5 persen.

Apa yang dialami ketiga negara tersebut berkebalikan dengan yang terjadi di Australia Timur. Di negeri kanguru itu, energi angin justru melonjak. “Itu adalah kenaikan terbesar pada keseluruhan peta,” ujar Karnauskas.

Di Australia timur, energi angin naik sebesar 48 kW atau 23 persen. Kenaikan juga terjadi di negara yaitu Brasil timur dan Afrika barat.

Lalu, energi angin di Brasil naik 35 persen, sedangkan di Afrika barat, energi angin naik hingga 40 persen.

Alasan daerah pesisir mengalami peningkatan energi angin adalah karena daratan memanas lebih cepat dibandingkan lautan. Perbedaan itu adalah sumber energi bagi angin.

“Ironisnya, semakin panas, semakin meningkat tenaga angin di sana,” ungkap Karnauskas.

Namun, di garis lintang utara, pendorong utama angin adalah perbedaan antara suhu Arktika dan daerah tropis. Padahal, Arktika sendiri memanas dengan cepat sehingga perbedaan suhunya lebih sedikit.

Untuk itu, para ilmuwan harus mengubah prediksi kecepatan angin yang dipengaruhi perubahan iklim, menjadi energi angin. Faktor suhu, tekanan, dan kelembapan memengaruhi kekuatan angin.

“Udara yang lebih padat akan semakin kencang pada turbin angin,” kata Karnauskas.

Profesor Brian Hoskins dari SelImperial College London yang tidak terlibat dalam penelitian ini pun turut menanggapinya.

“Penting untuk mencoba memperkirakan bagaimana perubahan iklim kemungkinan akan mempengaruhi semua aktivitas kita. Ini adalah contoh yang bagus,” kata Prof Hoskins.

Penelitian ini sebenarnya menganalisis rata-rata angin bulanan di wilayah yang luas. Untuk hal tersebut, Hoskins menyebut bahwa perubahan skala yang lebih kecil bisa lebih penting untuk ladang angin tertentu.

Hal berbeda diungkapkan oleh Dave MacLeod dari Universitas Oxford. Mac Leod berkata bahwa penelitian resolusi tinggi lainnya menemukan hasil yang berbeda di Amerika Serikat.

Menanggapi hal itu, Karnauskas mengakui adanya ketidakpastian. Dia pun berharap agar penelitian ini memberi titik awal untuk penelitian lanjutan yang lebih fokus.

“Ini menunjukkan bahwa tempat-tempat tertentu memerlukan studi terperinci. Sampai sekarang, kami merasa tidak ada lagi konsistensi keprihatinan bersama terhadap masalah tersebut,” katanya. [kom]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here