Polri Sulit Identifikasi Peluru yang Tewaskan Warga Saat Aksi 22 Mei

Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo. @Foto: Net/Liputanbanten.co.id

Jakarta, Liputanbanten.co.id – Proses penyelidikan tewasnya 9 orang terkait aksi 21-22 Mei masih berlanjut. Namun, kepolisian mengaku kesulitan menemukan senjata yang melepaskan proyektil kaliber 5,56 dan 9 milimter tersebut.

Proyektil 9 milimeter telah rusak, sedangkan proyektil 5,56 milimeter diduga ditembakkan dari senapan rakitan. Terkait soal peluru, saat kerusuhan 21-23 Mei lalu, Komnas HAM menemukan fakta, dari hasil autopsi yang diterima dari Polri, dari 8 korban meninggal, dua orang diyakini meninggal karena terkena peluru tajam.

“Cuma ciri khasnya rakitan lebih sulit diidentifikasi alur senjatanya, uji balistik akan kesulitan, senjata rakitan ada yang punya alur ada yang enggak punya alur. Kalau senjata standar jelas, alur ke kanan atau alur kiri,” kata Karopenmas Polri, Brigjen Pol Dedi Prasetyo, di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (19/6/2019).

Dedi juga menjelaskan, biasanya kaliber 5,56 mm tersebut memang digunakan pada senjata organik TNI-Polri. Namun, pada beberapa kasus, seperti yang digunakan dalam konflik di Poso, ataupun senjata milik KKB di Papua, proyektil tersebut bisa ditembakkan melalui senjata rakitan.

“Itu kan peluru organik, cuma senjata yang digunakan itu senjata rakitan. Senjata rakitan tersebut, yang terakhir diungkap oleh Mabes Polri, terkait masalah Pak KZ itu senjata yang dibuat oleh Pak J. Senjata yang dimiliki pelaku terorisme, bisa didapat dari penyelundupan senjata dari Filipina Selatan. Bisa juga senjata rakitan itu pakai amunisi standar,” terang Dedi.

Dedi juga menjelaskan, tidak ada personel Polri-TNI yang berada di sekitar Bawaslu, yang saat itu terjun sebagai pasukan pengamanan langsung tidak dilengkapi dengan senjata berpeluru tajam. Hal tersebut diperkuat dengan fakta, bahwa kebanyakan korban yang berjumlah 9 orang tersebut, tewas di luar area Bawaslu.

“Mereka hanya dilengkapi tameng, gas air mata dan water cannon. Dan sebagian besar 9 korban yang diduga perusuh meninggalnya tidak ada di depan Bawaslu, itu perlu dicatat, semuanya di TKP yang di luar lokasi Bawaslu,” pungkas Dedi.

Kerusuhan 22 Mei terjadi di depan Bawaslu RI. Kerusuhan itu merembet ke berbagai wilayah di Jakarta seperti pembakaran Asrama Brimob di Petamburan, hingga rusuh di Slipi, Jakarta Barat. (Lb/Kmp/Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here