Rendahnya Akses Air Bersih Dan Aman Di Kota Tangerang

Ilustrasi: Air Bersih

Oleh : Zenri Voltado Fiskal

Liputanbanten.co.id – Air adalah sumber kebutuhan primer makhluk hidup. Sering kali air menjadi masalah bagi sebagian orang. Seperti misalnya, banyak orang menghalalkan segala cara untuk bisa memperoleh air bersih. Bahkan hal kecurangan pun di tempuh untuk mendapatkan air bersih, dengan cara memberikan bahan-bahan kimia ke dalam air, mengurangi suplaian air bersih. Tidak hanya kecurangan yang dilakukan oleh manusia, tetapi alam pun ikut berperan dalam proses memberikan air bersih. Salah satunya ialah pencemaran air, kekeringan yang terjadi pada sumber-sumber air, seperti sungai, danau, bahkan sumur. Jika sudah terjadi seperti ini, bukan orang dewasa yang terkena dampaknya. Bahkan anak-anak kecil ikut terkena dampaknya dari krisisnya air bersih.

Ketersediaan dan  kemudahan akses air bersih merupakan elemen penting dalam kehidupan. Amandemen IV Pasal 33 ayat (3) mengamanatkan bahwa “Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemak- muran rakyat”. Amanat UUD 1945 mengandung makna bahwa negara menguasai dan mengatur pemanfaatan air, demi memenuhi kebutuhan masyarakat secara adil dan merata. Negara, dalam hal ini pemerintah daerah bertanggung jawab dalam mengelola air secara efektif dan efisien serta tepat sasaran, sehingga dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Salah satunya kota Tangerang. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa kondisi kualitas perairan sungai Cisadane dan akses air bersih yang aman di kota Tangerang masih sangat memprihatinkan dengan tingginya kasus pencemaran sungai serta rendahnya akses air bersih untuk masyarakat.

Perlu kita ketahui di kota Tangerang, banyak sekali aktivitas industry ataupun rumah industry yang memerlukan debit air yang sangat tinggi. Sehingga akan banyak juga pencemaran air yang disebabkan oleh aktivitas industry ataupun rumah industry. Kini, ada sekitar 246 industri di Kota Tangerang, diawasi Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) karena banyak dari industry itu yang membuang limbah cair dan limbah kimia B3 yang berbahaya ke sungai Cisadane. Banyak pihak-pihak perusahaan yang bersangkutan merasa limbah yang dibuang di air sungai sudah baik. Mungkin sekilas sangat baik, tetapi faktanya. Ketika limbah itu telah masuk ke badan air sungai, warna dan tekstur badan air telah berubah menjadi tidak layak untuk di gunakan dalam kehidupan sehari-hari. Ironisnya sungai-sungai yang tercemar limbah, menyebabkan wabah penyakit kulit seperti gatal-gatal, infeksi saluran kencing. Karena banyak anak-anak yang memanfaatkan sungai di Tangerang, khususnya sungai cadas yang sering kali menjadi tempat pemandian anak-anak. Sungai Cadas sendiri adalah perpecahan dari sungai Cisadane yang mengalir sampai ke daerah Daon.

Berdasarkan data dinas lingkungan dan berbagai penelitian dilaporkan bahwa berbagai sumber air seperti sungai Cisadane telah tercemar oleh pembuangan limbah cair baik dari pemukiman maupun industri. Panjang sungai Cisadane ± 140 km; luas ± 1411 km2, dan Debit rata-rata bulanan = 115,315 m3/dt (st. Batu Beulah). Pemantauan kualitas air di sungai Cisadane dengan parameter pencemar yang melebihi baku mutu (kelas III) PP 82/2001. Dengan parameter yang sangat berpengaruh pada status mutu air sungai di daerah (Hulu, Tengah, Hilir) adalah DO, Fe, TSS, Permanganat, dan E.coli. Kondisi tersebut memperburuk permasalahan sumber air baku dan penyediaan air minum bagi masyarakat. Berdasarkan data dari PDAM kota Tangeran diketahui bahwa cakupan layanan air bersih masih belum terpenuhi, baru mencapai 90 % artinya masih ada 10 persen masyarakat diharapkan mencari dan mendapatkan air bersih secara swadana tanpa ada jaminan keamanan dari pemerintah (Sumber : www.pdamtirtabenteng.co.id). Ketersediaan air bersih dalam jumlah dan kualitas yang memadai sangat vital bagi kelangsungan pembangunan, ekonomi dan kesehatan. Tidak mengherankan bila pada situasi seperti ini banyak muncul kasus penyakit waterborne disease. Berdasarkan data dinas kesehatan tahun 2015 – 2016 diketahu bahwa mengalami penaikkan jumlah kasus DBD yaitu dari 373 kasus sampai 1253 kasus, hal ini terjadi kemungkinan karena adanya perubahan iklim yang berpengaruh terhadap kehidupan vector, salah satunya kualitas air. Selain itu faktro perilaku dan partisipasi masyarakat yang masih kurang dalam kegiatan pemberantasan sarang nyamuk serta factor pertambahan jumlah penduduk dan faktor peningkatan mobilitas penduduk yang sejalan dengan semakin membaiknya sarana transportasi menyebabkan penyebaran virus DBD semakin mudah dan semakin luas. (Sumber : www.dinkes.tangerangkab.go.id)

Kota Tangerang, hampir masyarakatnya menggunakan air dari PDAM dan air sungai. Tapi tidak selamanya air PDAM dan air sungai itu tersedia bagi masyarakat kota Tangerang. Pasalnya seringkali di beberapa daerah tertentu air PDAM mengalami pembongkaran pipa, pipa bocor yang menyebabkan air tidak sampai di rumah-rumah masyarakat karena air terbuang sia-sia. Lalu untuk air sungai biasanya masalah kekeringan yang terjadi pada waktu tertentu. Walaupun hanya beberapa waktu tertentu saja. Itu sudah sangat merugikan bagi masyarakat yang membutuhkan air sebagai kebutuhan primer mereka.

Hal ini bisa saja di atasi, baik itu oleh pemerintah atau masyarakat. Dengan cara melakukan cek berkala setiap minggunya disetiap titik kebocoran pipa, sehingga tidak menyebabkan air terbuang sia-sia. Lalu untuk masyarakat bisa melakukan aksi bersih sungai setiap minggunya, namun tidak hanya aksi bersih sungai saja melainkan juga merawat sungai. Seperti membuang sampah pada tempatnya tidak di badan air, membuat ipal komunal agar segala aktivitas MCK, mencuci dan sebagainya masuk kedalam ipal komunal terlebih dahulu sebelum dibuang ke badan air. Jika sudah demikian sungai dan air PDAM pasti akan bisa di manfaatkan kembali sebagai sumber kebutuhan primer, dan juga mengurangi penyakit water born disease (penyakit yang disebabkan oleh kualitas air yang tidak bersih).

Untuk itu dalam upaya meningkatkan kualitas lingkungan khususnya kualitas sumber air, serta untuk meningkatkan cakupan akses air bersih,,pemda harus memaksimalkan lagi cakupan layanan air bersih sampai ke daerah terpencil kota Tangerang, agar semua masyarakat kota Tangerang dapat menikmati air bersih untuk kehidupan sehari-hari. Juga diharapkan pemerintah lebih ketat lagi dalam mengatasi pencemaran sungai yang berada di kota Tangerang, khususnya sungai Cisadane yang banyak menjadi pokok yang diperlukan kota Tangerang. Karena ketersediaan air bersih yang memadai merupakan hak dasar masyarakat untuk dapat hidup secara layak dan bermartabat.

Penulis adalah : Mahasiswa Fakultas Bioteknologi UKDW Yogyakarta, Warga Kota Tangerang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here