Gempa Tuntut Kasus Sengketa Lahan Masyarakat Maja Diselesaikan

Lebak, Liputanbanten.co.id – Puluhan Pemuda, Mahasiswa dan Masyarakat Maja yang tergabung dalam Gerakan Masyarakat Peduli Agraria (Gempa) menggelar aksi kamisan di depan Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Lebak, aksi tersebut merupakan bentuk penyampaian aspirasi secara damai dan dilakukan secara berlanjut.

Aksi tersebut diikuti oleh beberapa organisasi lainnya seperti Front Aksi Rakyat Banten (Fakrab), Forum Warga Peduli Agraria (FWPA), Mahasiswa Pemuda Peduli Pembangunan (MP3) Lebak,bSolidaritas Perempuan Lebak (SPL), dan Pergerakan Santri Lebak (PSL).

Sebelumnya, aksi kamisan ini pertama dilakukan di Kabupaten Lebak, dalam aksinya tersebut mengusung Isu seputar agraria serta yang berkaitan dengan beberapa persoalan lainnya yang terjadi pada masyarakat Kecamatan Maja.

Dalam aksinya tersebut masyarakat Maja menuntut agar pemerintah hadir untuk memfasilitasi penyelesaian sengketa lahan, bukan hanya memihak kepada para pemilik modal, tetapi selain itu, berbagai perizinan terutama yang menyangkut hak perusahaan atas lahan perlu dilakukan audit dan investigasi lebih lanjut.

Humas aksi, Hendaya Musalev mengatakan, maraknya sengketa lahan yang tidak terselesaikan, bahkan ada yang sampai berujung pemanggilan warga oleh pihak terkait, Sudah menjadi rahasia umum ada SPH Ganda dalam persoalan ini, dimana Ada SPH Equator Dan SPH Harvest Time yang akhirnya masyarakat dituduh menjual 2 kali,” ungkap Musalev saat menggelar aksi di depan gedung DPRD Lebak, Kamis (22/2/18).

Lanjut Musalev,”untuk itu kami merasa tergerak untuk turun melakukan pembelaan terhadap warga atas persoalan sengketa lahan, yang tidak ada kejelasan apalagi jika berujung pada pemidanaan warga, dengan dasar persoalan tanah karena ketidaktahuan dan akibat ulah oknum yang telah menjebak warga pemilik lahan,”ujarnya.

Hal tersebut merupakan benang kusut dari sengketa-sengketa lahan yang terjadi antara masyarakat dengan perusahaan, atau perusahaan dengan perusahaan yang berimbas terhadap warga, sengketa tersebut seolah tidak pernah ada penyelesaian.

Diketahui, pengadilan negeri Rangkasbitung beberapa waktu lalu turun ke lokasi objek sengketa, dimana salah satunya untuk melakukan sita jaminan agar tanah tersebut menjadi status quo dan dititipkan kepada pihak Desa untuk tidak dipindah tangankan sebelum ada keputusan inkrah, tetapi perintah Pengadilan Negeri (PN) Rangkasbitung seolah tidak digubris yang pada akhirnya masyarakat menjadi korban.

“Kondisi sengkarut dan berlarut-larut penyelesaian sengketa lahan ini, membuat warga khawatir dan merasa terintimidasi.”Kami mengecam segala bentuk intimidasi yang dilakukan oleh pihak manapun kepada warga serta kami mendesak agar oknum mafia tanah atau calo yang merugikan segera di tangkap,”ujar Musalev.

Sementara itu, Sudandi Korlap Aksi menambahkan, persoalan sengketa tanah ini mempunyai luasan yang sangat fantastis, luasan tanah tersebut diperkirakan mencapai 500 hektar, terletak di sekitar 1.500 bidang yang tersebar di beberapa desa di Kecamatan Maja dan Curugbitung. Aksi ini merupakan jihad melawan mafia tanah, aksi ini merupakan bagian dari aksi nyata dan ikhtiar berjihad bersama warga untuk melawan para mafia tanah,”tambahnya.

Lanjut Sudandi,”Sekali lagi kami mendesak agar aparat penegak hukum untuk segera mengusut tuntas dan menangkap mafia tanah, kami akan terus bergerak menggalang kekuatan rakyat untuk menghadapi mafia tanah. Kami menilai tindak kejahatan mafia tanah harus dilawan dengan gerakan massif yang berani dari seluruh elemen masyarakat,”kata Sudandi.

Ia juga mendesak agar pemerintah hadir untuk memfasilitasi penyelesaian sengketa lahan, kemudian jangan hanya memihak kepada para pemilik modal, Selain itu, berbagai perizinan terutama yang menyangkut hak perusahaan atas lahan perlu dilakukan audit dan investigasi lebih lanjut,menurut analisa kami tidak sedikit perusahaan yang melakukan pembebasan lahan didaerah maja yang menyimpan banyak misteri yang sulit dipecahkan secara logika,”tutupnya. [Lb/Ram]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here