Pilkada Banten 2018

Eko Supriatno. (Foto: Ist)

Oleh. Eko Supriatno,S.Ip.M.Pd

Pemilihan Kepala Daerah Serentak dipastikan bulan Juni 2018. Sesuai aturan, tahapan pelaksanaan pilkada, maka hitungan mundur 10 bulan sebelum pemilihan, diperkirakan sekitar Bulan Agustus-September 2017. (Surat Edaran No. 42 Tahun 2014 tentang persiapan penyelenggaraan pilkada dan Perpu No. 1 Tahun 2014 tentang Pilgub, Walikota, dan Walikota (Revisi)).

Saat ini belum ada figur yang memiliki popularitas tinggi di setiap Pilkada di Banten. Jika waktu pemilihan dipercepat, peluang figur baru menjadi sangat besar. Namun jika pemilihan sesuai jadwal, peluang figur lain untuk tampil masih terbuka lebar. Secara umum popularitas figur-figur tersebut masih rendah (di bawah 30%) sehingga diperlukan waktu sedikitnya 8 bulan bagi mereka untuk memperoleh popularitas optimal. Makanya perlu mendorong figur yang sudah memiliki popularitas tinggi dan berusaha mempercepat waktu pemilihan untuk mengurangi peluang pihak lain.

Dari empat pilkada, tiga di antaranya hampir dipastikan akan diramaikan calon petahana (incumbent), yaitu Kabupaten Tangerang Ahmed Zaki Iskandar, Kota Tangerang Arief R Wismansyah, dan Lebak Iti Octavia Jayabaya. Sementara, di Kota Serang tidak ada calon petahana, karena Walikota Serang, Tb Haerul Jaman sudah menjabat selama dua periode. Kendati demikian, istri dari Haerul Jaman, yaitu Vera Nurlaila Jaman. Pertanyaannya, siapa yang akan menantang calon petahana tersebut. Bisa juga dipastikan tiga kepala daerah yang saat ini masih menjabat akan kembali manggung pada Pilkada 2018. Setelah melihat kekuatan politik di Lebak, dan Kabupaten/Kota Tangerang dikuasai kepala daerah itu. Selain itu, basis kekutan partai politik pun masih bergantung pada ketiga sosok pemimpin tersebut. Berbeda dengan dinamika politik di tiga kabupaten/kota, pilkada di Kota Serang diprediksi akan terjadi persaingan yang sangat ketat.

Catatan Kritik: Pilkada Banten 2018

Setidaknya ada 3 (Tiga) Catatan Kritis atau harapan penulis dalam tulisan ini:

Pertama, saya berharap Pilkada 2018 tidak hanya dianggap pesta politik semata, tetapi sebagai pesta pemikiran, gagasan, ide, dan kebudayaan. Pilkada langsung adalah soal pilihan terhadap figur, sehingga sangat tergantung pada soal suka atau tidak. Dan suka atau tidak sangat dipengaruhi oleh persepsi, isu populisme dan top isu serta memainkan sentimen positif yang dibangun dan tercitrakan. Trend kecenderungannya perilaku pemilih (voting behavioral) sangat tidak suka terhadap pemimpin yang terlalu birokratis, ‘raja jaim’, dan kaku. Aktivitas formal lebih dominan dari pada nonformal, seperti blusukan dan seterusnya.

Pemilihan kepala daerah (pilkada) seperti kita ketahui adalah perhelatan demokrasi tingkat daerah di Indonesia sebagai konsekuensi ditetapkannya UU Nomor 8/2015 Pasal 3 mengenai pemilihan dilaksanakan setiap lima tahun sekali secara serentak di seluruh Indonesia. Lebih rinci lagi dijelaskan pada pasal 201, pilkada serentak nasional baru benar-benar bisa tercapai pada 2027.

Mengutip Robert Alan Dahl (1978), demokrasi adalah alat yang digunakan untuk mencapai terwujudnya hak-hak esensial individu, membuka kesempatan untuk menentukan posisi dari individu, dan membangun kesejahteraan masyarakat. Artinya, pilkada merupakan sebuah konsensus politik nasional yang menjadi salah satu instrumen penting demi terwujudnya kedaulatan rakyat.

Kedua, setiap Partai politik harus segera melakukan penjaringan, ini adalah salah satu indikatornya hasil survei dari lembaga independen perihal popularitas dan elektabilitasnya di masyarakat. Dengan hal tersebut, partai politik akan melihat siapa bakal calon  kepala daerah yang punya popularitas dan elektabilitas tinggi berdasarkan hasil survei. Hal itu, lantaran partai tidak akan mengusung calon yang kalah dalam setiap pertarungan.

Masyarakat memiliki harapan besar terhadap pilkada. Harapan yang lebih khusus ditujukan kepada kepala daerah terpilih nantinya. Masyarakat mengharapkan kehidupan yang sejahtera, pendidikan dan keamanan yang terjamin, kerukunan umat beragama, serta kemajuan yang dapat mendorong daerah tersebut menjadi lebih baik lagi.

Pilkada memberikan kesempatan yang luas bagi masyarakat untuk menjemput harapannya melalui calon kepala daerah yang bersungguh-sungguh dalam bekerja.

Ketiga, kita menanti kinerja “dahsyat” dari kalangan media baik cetak, elektronik dan ‘online’ yang kelihatannya belum menyebarkan informasi Pilkada serentak 2018 sehingga belum terlihat semarak dalam memberikan pencerahan dan sosialisasi bagi masyarakat.

Dalam teori agenda setting yang dikemukakan Maxwell Mc Combs dan Donal L Shaw (1968) berasumsi bahwa media memiliki kekuatan untuk mentransfer isu untuk memengaruhi agenda publik.

Saat momen politik, peran penting media sangat dibutuhkan. Pilkada merupakan saat bersejarah bagi rakyat negeri ini yang membutuhkan kontribusi nyata insan media.

Kebutuhan publik pada informasi politik yang edukatif “amat sangat” dibutuhkan ketika pilkada. Bukan tidak mungkin informasi media menjadi referensi pendidikan politik maupun peningkatan partisipasi pemilih dalam pilkada.

Dengan kinerja “dahsyat” media publik, media penyiaran sudah seharusnya menjadi rujukan utama bagi masyarakat mengenai kepemiluan dalam pilkada. Pendidikan politik bukan hanya tugas partai politik.

Media massa memainkan peran signifikan di sini. Tentu dalam hal ini pendidikan politik cerdas dan bermartabat bagi publik diberikan media.

Itulah sebabnya kita semua berharap peran penting dijalankan media tersebut direalisasikan dalam konteks realitas politik pilkada.

Media mendorong publik menjadi pemilih rasional, bukan pemilih seperti memilih kucing dalam karung. Dengan tanpa pertimbangan matang pemilih mencoblos pimpinan daerahnya.

Banten Baru!

Pilkada 2018 adalah momentum terbaik bagi Banten untuk memilih pemimpin yang berkualitas dan mengakhiri penantian panjang. Sadar atau tidak, penantian tersebut telah menggerus dan menguras tenaga, waktu, dan pikiran. Bahkan dalam pelbagai hal, penantian itu hampir mengubur eksistensi Banten ke titik nadir sebagai sebuah provinsi.

Kondisi daerah yang telanjur berantakan sampai ke level bawah ini tentu sedikit banyak menyulitkan proses pembangunan. Butuh strategi khusus untuk membangun kembali Banten agar tidak tertinggal terlalu jauh dengan daerah lain. Penataan ini penting untuk memperkuat eksistensi Banten. Selain itu, tentu saja dibutuhkan figur-figur kepala daerah yang sesuai dengan tantangan dan harapan Banten ke depan.

Figur-figur tersebut setidaknya memiliki pemahaman yang baik dan komplet tentang kondisi Banten, saat ini dan di masa datang. Lantaran itu, wajar jika ada tuntutan bahwa figure-figur tersebut harus memenuhi kualifikasi prestasi, dedikasi, loyalitas, dan tidak tercela (PDLT). Kriteria PDLT ini sering dipersyaratkan ketika terjadi seleksi di setiap Pilkada.

Jika Pilkada 2018 hendak dibawa ke arah yang lebih strategis dan luas, ada banyak kebutuhan khusus bagi Banten. Sebab, daerah ini sesungguhnya tengah menghadapi gelombang perubahan besar di masyarakat. Jika tidak segera berbenah di tengah-tengah perubahan tersebut, Banten hanya tinggal sejarah kebesarannya. Salah satu tantangan terberat bagi Banten ialah bagaimana kembali menguasai episentrum “kejayaan”.

Sejak awal Banten didesain untuk “hebat”. Meski bukan hal yang mustahil, namun agak lebih berat jika sejak awal Banten memasang target tinggi dalam Pilkada. Setidaknya target tersebut harus menjadi sumber motivasi bagi elite, kader, dan simpatisan dalam membangun kembali kejayaan Banten. Untuk itu, langkah pertama yang harus dilakukan adalah melakukan inisiasi “Banten Baru”.

Banten harus berevolusi dari daerah yang mengedepankan oligarki ke arah yang lebih terbuka. Tidak selamanya elite-elite di Banten harus mendapat privilese dalam promosi dan mobilitas vertikal kekuasaan.

Banten kedepan tuntutan terhadap perjuangan dan komitmen calon kepala daerah di Banten yang antikorupsi harus semakin kuat. Banten harus mengambil peran sentral dalam isu-isu antikorupsi.

Banten baru adalah sebuah keniscayaan. Banten harus berani memiliki para pemimpin yang berpikir strategis, lebih segar dan bertenaga. Semoga!

Penulis adalah Tenaga Ahli DPRD Provinsi Banten

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here