Panitia Kerja Telusuri Kasus Jiwasraya

Ilustrasi

Jakarta, Liputanbanten.co.id – Komisi III DPR akan membentuk panitia kerja (panja) Jiwasraya untuk membantu mengusut kasus gagal bayar yang diduga merugikan negara Rp 13,7 triliun. Ketua Komisi III, Herman Hery, mengatakan lewat pembentukan panja pihaknya ingin mengetahui aktor intelektual di balik kasus itu.

“Saya ingin tahu nanti dalam panja, siapa sih aktor intelektual yang ada di belakang ini, selain orang-orang ini (tersangka) kalau memang ada. Kita tidak bisa suudzon bahwa mencurigai menduga boleh-boleh saja,” kata Herman di Gedung DPR, Senayan, Kamis (23/1).

Namun menurut Herman, pembentukan panja Jiwasraya tak akan mengintervensi kinerja Kejaksaan Agung dalam mengusut kasus ini. Ia meminta agar Kejaksaan Agung tetap menegakkan hukum tanpa pandang bulu.

“Fungsi panja nanti bukan berarti mengintervensi kerja penyidikan. Kerja penyidikan ini ada banyak hal, ada kerja intelijen, ada kerja penyidikan profesional. tentunya hal-hal yang bersifat intelijen dan rahasia tidak bisa panja mengintervensi,” tuturnya.

“Saya mengimbau Jaksa Agung inilah waktunya Anda menunjukkan taringmu. Laksanakan perintah Presiden, tegakkan hukum setegak-tegaknya enggak peduli siapa yang ditabrak,” imbuh Herman.

Herman mengatakan, Kejaksaan Agung sebaiknya tak berhenti dengan menetapkan 5 tersangka saja di kasus Jiwasraya.

“Kasus Jiwasraya langkah maju yang dilakukan oleh tim Kejaksaan Agung sudah menahan beberapa orang-orang kunci, tetapi menurut kami, tidak berhenti di situ saja. Hal yang utama adalah mengembalikan uang rakyat yang sudah diambil oleh garong-garong ini,” ucapnya.

Harun ingin aktor intelektual di balik kasus Jiwasraya bisa segera terungkap.”Perkara ini orang-orang ini harus ditelisik. mereka tidak berdiri sendiri, pasti di belakang ada orang lagi. Kami menduga untuk menggarong uang belasan triliun pasti pakai uang juga enggak mungkin pakai air ludah garong uang sekian triliun. Itu menurut saya yang berlatar belakang pengusaha, pasti uang mancing uang,” pungkas Herman.

Jiwasraya diduga mengalami gagal bayar kewajiban kepada nasabah sebesar Rp 802 miliar. BPK menemukan indikasi kecurangan atau fraud pada produk saving plan dan penempatan investasi di Jiwasraya.

Dalam kasus ini, Kejagung Agung telah menjerat lima tersangka. Mereka ialah mantan Direktur Utama Jiwasraya, Hendrisman Rahim; mantan Direktur Keuangan Jiwasraya, Hary Prasetyo; mantan Kepala Divisi Investasi dan Keuangan Jiwasraya, Syahmirwan.

Kemudian, Komisaris PT Hanson Internasional Tbk, Benny Tjokro; dan Presiden Komisaris PT Trada Alam Minera (TRAM) Tbk, Heru Hidayat. Para tersangka bahkan sudah ditahan penyidik.(Lb/Kmp/Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here