Warga Gempol Wetan Cilegon Masih MelestarikanTradisi Bendrong Lesung

Bendrong lesung tradisi masyarakat Gempol wetan cilegon. @liputanbanten

Cilegon, Liputanbanten.co.id – Warga lingkungan Gempol Wetan Kelurahan Pabean Kecamatan Purwakarta Kota
Cilegon, masih melestarikan kearifan lokal dan budaya terutama Bendrong Lesung yang menjadi musik tradisional. Ini terlihat pada acara resepsi pernikahan warga gempol wetan, sabtu (23/6).

Bendrong Lesung digunakan atau diperdengarkan pada acara-acara malam pernikahan, acara nasional atau acara kebesaran tertentu, serta sebagai adat pada malam sebelum resepsi yang masih dilestarikan warga setempat.

Bendrong Lesung adalah kesenian tradisional yang menggunakan lesung dan alu sebagai property pertunjukannya.

Lesung dan alu yaitu alat penumbuk padi tradisional yang terbuat dari kayu. Kesenian ini merupakan salah satu kesenian tradisional dari daerah Cilegon, Banten.

“Kesenian bedrong lesung ini menggambarkan tentang kegembiraan dan suka cita masyarakat dalam menyambut musim panen mereka, Ujar sabihah warga gempol wetan.

Lanjut Sabihah, Kesenian berong lesung ini tumbuh dan berkembang secara turun-temurun di daerah Cilegon, Banten terutama di lingkungan gempol wetan.

Pada mulanya, kesenian ini merupakan sebuah tradisi masyarakat setempat untuk menyambut datangnya musim panen.

Mereka membuat pertunjukan Bendrong Lesung sebagai wujud kegembiran dan rasa mereka terhadap hasil panen yang mereka dapatkan.

Tradisi tersebut masih terus berlanjut hingga sekarang, bahkan tidak hanya menjadi bagian dari musim panen saja, kesenian Bendrong Lesung ini menjadi salah satu kesenian khas dari kota Cilegon.

Pada awalnya kesenian Bendrong Lesung ini hanya dimainkan oleh wanita dewasa saja. Namun seiring waktu, bendrong lesung dimainkan oleh para remaja laki-laki maupun perempuan.

Dalam pertunjukannya, kesenian Bendrong Lesung ini dimainkan oleh 6-10 orang. Dengan penuh semangat mereka memegang alu dan menghentakkannya pada lesung tersebut secara bergantian sehingga menghasilkan nada yang unik.

Saat memainkan alu tersebut
pemain juga bergerak seperti menari mengelilingi lesung dengan menunjukan ekspresi keceriaan mereka. Awalnya mereka hanya menari kecil saja, namun seiring dengan bertambah cepatnya tempo yang mereka mainkan, gerakan mereka juga mengikuti kecepatan tempo tersebut.

Senada dengan Nyai Siyah, Walaupun merupakan kesenian tradisional, kesenian bendrong lesung ini masih tetap dilestarikan dan diajarkan secara turun temurun di daerah Cilegon, khususnya di lingkungan gempol wetan ini.

Hal ini dilakukan sebagai usaha pelestaria dan memperkenalkan kepada masyarakat luas akan tradisi dan kesenian yang ada di sana. (Lb/*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here