Akibat Kekeringan, Petani di Lebak Beralih Profesi

Sawah Kekeringan @Istimewa

Lebak, Liputanbanten.co.id – Sejumlah petani Kabupaten Lebak, terpaksa alih profesi akibat musim kemarau yang terjadi sejak Juli 2018 lalu hingga menimbulkan kekeringan dan kesulitan pasokan air.

Berdasarkan informasi yang diterima, sejumlah petani di sejumlah daerah kini mulai beralih profesi akibat dilanda kekeringan.

Mereka petani tidak bisa melaksanakan gerakan tanam karena areal persawahan kekeringan. Sebagian besar petani di sini (kalanganyar-red) menggarap sawah tadah hujan dan jika kemarau dibiarkan areal persawahan tanpa ditanami.

Bahkan, petak-petak sawah tanahnya terlihat berbelah akibat kemarau itu. Mereka petani beralih pada usaha lain, seperti pedagang sayur, bubur ayam, pengojek motor, buruh bangunan dan pengemudi angkutan.

Selain itu juga mereka mengadu nasib ke luar daerah, seperti di Serang, Tangerang dan Jakarta.

“Kami sudah dua pekan terakhir ini menjadi pengojek sepeda motor karena usaha tani mengalami kekeringan karena kemarau itu,” kata Sukri (45), seorang petani Kecamatan Kalanganyar, Kabupaten Lebak, Jum’at (23/8).

Ia mengakui pendapatan pengojek relatif lumayan bisa memenuhi kebutuhan dapur juga mencukupi anggota keluarga dengan pendapatan rata-rata Rp50-60 ribu per hari.

“Kami berharap kemarau tidak berlangsung lama sehingga petani bisa melaksanakan percepatan tanam,” katanya.

Begitu juga Murad (55) petani Kecamatan Cibadak Kabupaten Lebak mengaku selama musim kemarau terpaksa menjadi buruh bangunan.

“Kami sudah biasa jika kemarau beralih profesi dan menjadi buruh bangunan bisa bawa uang sekitar Rp80 ribu per hari,” ujarnya.

Dudung (55), petani Kecamatan Warunggunung Kabupaten Lebak mengaku dirinya kini beralih profesi menjadi pengemudi angkutan Rangkasbitung-Pandeglang akibat kemarau panjang.

“Kami sudah tidak bisa mengandalkan hidup dari petani jika musim kemarau karena kesulitan memperoleh pasokan air,” katanya.

Kepala Cabang Dinas Pertanian Kecamatan Kalanganyar Kabupaten Lebak Budi mengatakan, petani di sini sudah biasa jika musim kemarau beralih profesi untuk menutupi kebutuhan hidup sehari-hari.

Sebab, usaha pertanian darat dan sawah tidak bisa dilaksanakan tanam karena kesulitan pasokan air bersih.

“Kami minta petani bisa melaksanakan padat karya melalui dana desa agar tidak menganggur,” katanya.(Lb/Ant)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here