Menakar Tangsel Sebagai “Smart City”

Foto: Ilustrasi

Oleh : Drs. Syamruddin, MM

Menjadi sebuah Kota Cerdas/Pintar atau Smart City adalah impian dari semua kota-kota besar di seluruh dunia. Tapi bukanlah sekadar angan-angan yang akhirnya tidak pernah menjadi kenyataan karena proses ke arah itu tak pernah dilalui atau bahkan sulit untuk melewatinya. Sebab hanya menjadi wacana dari tahun ke tahun bagi “sang penguasa-penguasa” perkotaan. Termasuk yang terjadi pada daerah-daerah perkotaan di Indonesia.

Perencanaan Smart City adalah agenda global sebagai respon konseptual dan praktis terhadap berbagai krisis perkotaan di dunia yang semakin menghawatirkan. Hal ini dimaksudkan untuk mengembalikan hubungan antara manusia, ruang binaan, dan ruang alami yang lebih harmonis, sehingga tidak saling menyakiti. Smart City adalah sebuah konsep koa cerdas/pintar yang membantu masyarakat yang berada di dalamnya dengan mengelola sumber daya yang ada secara efisien/efektif dan memberikan informasi yang tepat kepada masyarakat/lembaga dalam melakukan kegiatannya ataupun mengantisipasi kejadian yang tak terduga sebelumnya.

Secara umum ada beberapa hal yang menjadi spesifikasi Smart City, yaitu :

  • Smart Government (Pemerintahan Pintar): kunci utama keberhasilan penyelenggaraan pemerintahan adalah Good Governance. Yaitu paradigma, sistem, dan proses penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan yang mengindahkan prinsip-prinsip supremasi hukum.
  • Smart Economy (Ekonomi Pintar): maksudnya adalah semakin tinggi inovasi-inovasi baru yang ditingkatkan maka akan menambah peluang usaha baru dan meningkatkan persaingan pasar usaha/modal.
  • Smart Mobility (Mobilitas Pintar): pengelolaan infrastruktur kota yang dikembangkan di masa depan merupakan sebuah sistem pengelolaan terpadu untuk menjamin keberpihakan pada kepentingan publik.
  • Smart People (Orang/Masyarakat Pintar): pembangunan senantiasa membutuhkan modal, baik modal ekonomi, modal manusia maupun modal sosial.
  • Smart Living (Lingkungan Pintar): lingkungan pintar itu berarti lingkungan yang bisa memberikan kenyamanan, keberlanjutan sumber daya, keindahan fisik maupun non fisik, visual maupun tidak, bagi masyarakat dan publik.
  • Smart Live (Hidup Pintar): berbudaya, berarti bahwa manusia memiliki kualitas hidup yang terukur (budaya).

Mari kita berkaca pada Kota Tangerang Selatan yang telah pernah mencanangkan diri sebagai Smart City. Bahkan Tangerang Selatan pun sudah pernah memproklamirkan akan menjadi Kota Technopolis, di mana pada September 2016 lalu, Pemkot Tangsel menjadi tuan rumah penyelenggaraan acara akbar; Tangerang Selatan Global Innovation Forum (TGIF) 2016. Kegiatan yang digelar oleh World Technopolis Association (WTA) pada 20-23 September 2016 lalu itu berlangsung di Puspiptek, Serpong, Tangerang Selatan. Terselenggaranya acara tersebut atas kerja sama Pemkot Tangsel dengan WTA, UNESCO, dan Kemenristek Dikti. Dalam Forum Internasional ini sekitar 1.000 peserta dari 30 negara hadir. Adapun tema acara pada saat itu adalah “Innovation for Sustainable Development”.

Bahkan, untuk mewujudkan Kota Technopolis, menjelang digelarnya ajang TGIF, delegasi Tangsel yang dipimpin Walikota Tangsel Airin Rachmi Diany berkunjung ke Kota Daejeon, Korea Selatan yang merupakan salah satu Kota Technopolis di dunia dan menjadi pusat World Technopolis Association (WTA). WTA sendiri merupakan wadah bagi kota-kota besar di dunia yang mempunyai basis dalam menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Saat ini tercatat ada 90 kota di dunia yang menjadi anggota WTA. Untuk di Indonesia sendiri, jumlah kota-kota besar yang telah resmi tergabung dalam organisasi tersebut bisa dihitung dengan jari. Sementara penentuan Kota Tangerang Selatan menjadi tuan rumah setelah digelarnya kongres di Kota Daejeon, Korea Selatan, pada 2015 lalu.

Kembali ke Smart City. Apakah semua spesifikasi Smart City telah dapat dipenuhi oleh Tangsel ? Walaupun sudah ada yang terpenuhi, tapi rasanya masih jauh dari impian. Kita lihat, kota yang sudah mulai memasuki usia sembilan tahun ini belum memenuhi semua kriteria yang dipersyaratkan. Padahal, kalau dari aspek permukiman, khususnya perumahan, Tangsel memiliki modal yang sangat besar agar bisa dengan cepat menjadi Smart City. Misalnya, ada pemukiman yang sudah tertata dengan baik seperti Bumi Serpong Damai, Alam Sutera, dan Bintaro. Bahkan, ketiga pemukiman besar ini seperti diibaratkan “kota dalam kota”.

Untuk menjawab apakah Tangsel sudah menjadi Smart City, maka masih perlu riset dan kajian yang mendalam. Karena untuk mewujudkannya, diperlukan respon dan partisipasi dari seluruh masyarakat. Pemerintah Kota Tangsel tak mungkin bisa bekerja sendirian. Untuk itu dibutuhkan peran serta dari semua elemen, termasuk kalangan akademis yang ada di Tangsel. Pemkot Tangsel harus membuka diri terhadap masukan-masukan yang disampaikan oleh masyarakat.

Karena kalau berbicara tentang “Menakar Tangsel Sebagai Smart City”, maka harus jujur kita mengakui untuk saat ini impian itu belum sepenuhnya terwujud. Masih banyak yang perlu dibenahi dan pencapaian-pencapaian yang harus diraih oleh Tangsel. Tentunya tidak mudah untuk melaksanakannya karena dibutuhkan sumber daya manusia yang handal dan memiliki kapabilitas, terutama pada tingkat pemerintahan.

Kendati demikian, Tangsel boleh berbangga, karena menjadi daerah pertama di Indonesia yang telah menerapkan perizinan online secara menyeluruh baik pendaftaran, pemrosesan sampai kepada pemberian paraf dan tandatangan yang dilakukan secara online. Legalitas paraf dan tandatangan secara online tersebut telah sah secara aturan dengan ditanamkannya konsep sertifikat digital pada sistem informasi manajemen perizinan online (SIMPONIE), sistem perizinan yang telah diluncurkan pada April 2015 lalu oleh Badan Pelayanan Perizinan Terpadu (BP2T) Tangerang Selatan.

Sistem ini kemudian dilengkapi dengan penerapan sertifikat digital, atas kerja sama dengan Balai Jaringan Informasi dan Komunikasi BPPT yang ditunjuk oleh Kementerian Komunikasi dan Infomatika (Kemenkominfo) sebagai lembaga yang menjalankan Certification Authority (CA). Dengan adanya konsep seperti ini, maka proses penyelesaian perizinan dapat dengan cepat diselesaikan, karena di manapun dan kapanpun para pejabat yang berwenang dapat melakukan paraf dan tandatangan.

Untuk yang satu ini Tangsel boleh kita acungi jempol. Namun untuk yang lain masih perlu penataan sehingga predikat Smart City dengan segera akan dapat terwujud. Seperti yang telah diraih oleh kota-kota lainnya di Indonesia di antaranya Bandung, Balikpapan, Makassar, dan Surabaya.

Selain itu ada pula pencapaian yang dihasilkan seperti perencanaan pembangunan melalui e-Musrenbang dan e-Reses. Pengelolaan anggaran melalui Sistem Informasi Manajemen Perencanaan, penganggaran dan pelaporan (SIMRAL). Hal lainnya adalah penggunaan Metode Time Tablekegiatan pada Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Namun, yang lebih terpenting dari itu adalah bagaimana semuanya dilakukan secara transparan. Misalnya, transparansi perencanaan  pembangunan, transparansi pengelolaan anggaran, dan transparansi pada bidang-bidang yang lainnya.

Dalam mewujudkan impian menjadi Smart City, selain itu  perlu pula diperhatikan bagaimana pengelolaan lingkungan, permukiman, penataan kota, pembangunan infrastruktur yang indah dan tertata rapi. Selanjutnya pelayanan publik yang terukur, penerapan e-kinerja dalam manajemen pemerintahan, dan tentunya masih banyak lagi yang harus dipenuhi untuk menjadi Tangsel sebagai Smart City.

Mari kita wujudkan Tangsel agar benar-benar dapat menjadi Smart City untuk kemajuan, kenyamanan, dan kesejahteraan seluruh masyarakat yang ada di selatan Jakarta ini. Semoga impian itu segera terwujud.

Penulis adalah Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Pamulang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here