Pemkab Serang Adopsi Penanganan AKI dan AKB

Bupati Kabupaten Serang Hj. Ratu Tatu Chasanah

Serang, Liputanbanten.co.id – Pemerintah Kabupaten Serang akan mengadopsi penanganan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) dari Kabupaten Kulonprogo yang dinilai berhasil dalam mengurangi  tingkat AKI dan AKB.

Bupati Serang Ratu Tatu Chasanah mengatakan tingginya angka kematian ibu dan anak akan berpengaruh terhadap  peningkatan  IPM, oleh karena itu Pemkab Serang sangat perlu  melakukan langkah langkah strategis yakni salah satunya adalah belajar dari Kabupaten Kulonprogo.

“Dengan adanya masalah seperti ini  saya dan Kepala Dinas Kesehatan harus segera melakukan rapat terbatas yang melibatkan seluruh elemen baik OPD-OPD terkait, juga para camat, Kepala desa, tokoh masyarakat, dan  Alim ulama,untuk bersama-sama belajar kepada kabupaten Kulonprogo  yang telah berhasildalam menangani AKI dan AKB,” kata Tatu pada acara Workshop Penggalangan Komitmen Dalam Percepatan Penurunan Angka Kematian Ibu dan Bayi tahun 2019.

Tatu menjelaskan, kesehatan ibu dan bayi di Kabuapten Serang masih sangat perlu mendapatkan perhatian dari semua pihak, hali ini bisa dilihat dari jumlah kematian ibu pada tahun 2017 berjumlah 58 orang, dan kematian bayi berjumlah 246 jiwa serta lahir mati sebanyak 131 jiwa. Pada 2018 meningkat menjadi 61 orang untuk kematian ibu dan kematian bayi mencapai  240 jiwa serta lahir mati berjumlah 183 jiwa.

“Data ini menunjukan bahwa sangat berat untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi di Kabupaten Serang, tahun 2019 ini saja per hari ini sudah ada 43 jiwa kasus kematian ibu dan 126 kematian bayi, ini merupakan kprihatinan kita bersama dan sebagai   kejadian luar biasa, dan bencana sosial yang membutuhkan sikap tegas dan tindakan cepat serta tepat untuk mengatasinya,” ujarnya.

Menurutnya, gerakan siaga satu darurat kematian ibu dan anak adalah gerak cepat dan bersinergi dari semua pihak dalam upaya penurunan jumlah kematian AKI dan AKB, peran aktif semua lintas sektor telah tertuang dalam uraian tugas.”Kita semua harus berperan aktif dan bersinergi serta berkoordinasi dengan baik untuk mencapai tujuan tersebut,” katanya.

Ia menambahkan, kematian ibu dan bayi dapat dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti faktor pelayanan kesehatan, perilaku lingkungan, serta faktor geografi sosial budaya dan ekonomi.

“Memang ada pergeseran sosial pada akhir-akhir ini di daerah kita,  mungkin di daerah yang lainnya juga di Indonesia telah terjadi perubahan kultur, mungkin juga pengaruh media sosial yang mudah di akses oleh anank-anak kita, dan dampak negatif yang masuk dengan mudah terhadap anak-anak,” katanya.

Tatu juga meminta agar masyarakat, pemerintah, tokoh masyarakat dan para alimu lama agar perduli terhadap lingkungannya, dan menjaga anak-anak agar jangan sampai terpengaruh oleh perubaha-perubahan negatif yang ada.

“ini tugas kita bersama menjaga anak-anak kita, karena sekarang ini kecenderungan menikah dini atau bahkan  hamil diluar nikah dalam pendataan  menjadi meningkat, dan ini menjadi penyumbang kematian ibu dan bayi, karena biasanya hamil diluar nikah dan melahirkan biasanya ditutup-tutupi, dan ini akan luput dari pantauan tim medis,” katanya. (Lb/Ant/Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here