Fakrab Tolak kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM)

Serang, Liputanbanten.co.id – Menjelang akhir kepemimpinannya, mungkin merupakan tahun puncak bagi rezim jokowi untuk menunjukkan pelayanan dan loyalitasnya kepada tuan imperialis-nya (Kapitalisme monopoli) secara habis-habisan.

Diketahui, sepanjang periode pemerintahannya (Jokowi), telah diwarnai dengan berbagai persitiwa yang telah meninggalkan luka demi luka yang menyakitkan bagi rakyat, terjadinya berbagai penggusuran tanah dan rumah warga di perkotaan maupun didesa dengan dalih topeng pembangunan, terjadinya berbagai kekerasan dan tindakan anti demokrasi, naiknya harga kebutuhan pokok, angka pengangguran dan kemiskinan rakyat yang tinggi, serta berbagai kebijakannya yang anti rakyat lainnya.

Presidium Front Aksi Rakyat Banten (Fakrab) Hendayana Musalev mengatakan, Jokowi saat ini kembali menghujani rakyat dengan kebijakan culasnya. Setelah memukul rakyat dengan menaikkan tarif dasar listrik (TDL), kenaikan harga kebutuhan pokok yang mencekik secara beruntun, ditengah beban hidup yang semakin berat dan menumpuk, kini pemerintah diam-diam kembali menaikan harga BBM dengan dalih pembenaran yang dibuat buat dan tidak nyambung.

“Menurut kami kenaikan harga BBM di Indonesia, sejatinya tidak terlepas dari intervensi kapitalisme monopoli (Imperialisme) yang terus memaksa rezim untuk melakukan penghapusan atas subsidi bagi rakyat. Kenaikan ini telah menjadi akibat langsung dari dominasi Imperialisme yang terus melakukan monopoli atas tanah, bahan mentah dan sumberdaya alam di Indonesia, termasuk monopoli atas sumberdaya energi dan mineral,”ujar Musalev kepada media, Senin (26/2/18).

Masih kata Musalev, Kenaikan harga-harga kebutuhan pangan pasti akan terasa dan merupakan akibat langsung dari kenaikan harga BBM tersebut. Rezim Jokowi menggunakan dalih kenaikan harga dengan alasan klasik dan usang.

“Dari pengalaman kenaikan harga BBM sebelum-sebelumnya, seakan sudah menjadi kebiasaan dalam menjalankan niat bulusnya, pemerintah selalu berusaha membodohi rakyat dengan permainan angka-angka untuk menutupi fakta di balik kenaikan harga BBM,”tuturnya.

Sementara itu, kenaikan BBM yang di klaim tidak akan berdampak pada sektor lain, ini bukti pemerintah secara terang telah membodohi rakyat dengan menegasikan kesaling hubungan antara sektor yang satu dengan lainnya.

Contoh produksi pabrikasi yang menjadi salah satu konsumen bahan bakar dan energi terbesar kedua setelah transportasi. Pemerintah menegasikan bahwa hampir sebagaian besar barang komoditas kebutuhan rakyat diproduksi melalui proses pabrikasi.

Dengan demikian, beban produksi yang meningkat akibat kenaikan harga bahan bakar pastinya akan menyebabkan naiknya harga-harga kebutuhan pokok dan komoditas lainnya. Kenyataannya bahkan dari kenaikan-kenaikan harga selama ini “Cenderung” melebihi angka kenaikan BBM.

Padahal dijelaskan Musalev, harga BBM didaerah sudah sangat mahal, harga eceran pertalite bisa mencapai antara Rp 10.000 per liter sudah sangat memberatkan rakyat, apalagi ditambah kenaikan saat ini.”kami menilai kenaikan BBM ini tidak terlepas dari kepentingan politik menuju pemilu yang sudah semakin dekat.

Jurus jitu pembenaran yang biasanya rezim lakukan adalah menggunakan politik (pro-rakyat) palsu yang gampang ketebak orientasinya. Rakyat telah menuai penderitaan demi penderitaan akibat kebijakan dan tindakan gegabah rezim dibawah kekuasaan Jokowi,”tutupnya [Lb/Ram]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here