Parlemen AS Khawatir Trump Akan Kerjasama Perjanjian Nuklir dengan Arab Saudi

Ilustrasi: Donald Trump Presiden AS (Dot/net)

Washington DC, Liputanbanten.co.id – Seorang anggota parlemen Amerika Serikat (AS) menyampaikan kekhawatiran atas upaya pemerintahan Presiden Donald Trump untuk menandatangani perjanjian kerja sama nuklir dengan Arab Saudi.

Pemerintah Saudi telah mengumumkan akan membangun dua reaktor nuklir pertama dari 16 reaktor yang akan dibangunnya. Rencananya, pemerintah Saudi akan mengumumkan pada awal Maret mendatang mengenai perusahaan yang akan membangun dua reaktor pertama tersebut.

Seperti dilansir AFP, Rabu (28/2/2018), kekhawatiran ini diungkapkan oleh Senator Demokrat Ed Markey yang mewakili negara bagian Massachusetts. Markey menyebut setiap kesepakatan ‘hampir pasti’ membutuhkan perjanjian non-proliferasi, yang juga disebut sebagai ‘kesepakatan 123’.

Perjanjian non-proliferasi jenis ini pernah ditandatangani AS dengan Korea Selatan (Korsel) dan India. Perjanjian semacam ini dirancang untuk mencegah penyebaran luas senjata nuklir.

“Upaya-upaya AS sebelumnya untuk mencapai kesepakatan 123 dengan Arab Saudi tidak berhasil terwujud, karena penolakan sejak lama (Saudi) dalam mewajibkan setiap pengayaan uranium atau pemrosesan ulang bahan bakar di wilayahnya memenuhi apa yang disebut ‘standar emas’ untuk kesepakatan 123,” ucap Markey yang merupakan anggota Komisi Hubungan Luar Negeri Senat AS.

Kekhawatiran Markey ini diungkapkan dalam surat kepada Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson dan Menteri Energi AS Rick Perry. Surat Markey itu tertanggal 26 Februari lalu. Dalam suratnya, Markey meminta Tillerson dan Perry untuk menjelaskan ‘dorongan diskusi baru untuk kesepakatan kerja sama nuklir antara AS dan Arab Saudi’.

Otoritas Saudi akan mengumumkan daftar perusahaan yang ikut tender pembangunan reaktor nuklir di wilayahnya, pada awal Maret nanti. Selain perusahaan AS, Westinghouse, beberapa perusahaan lain dari sejumlah negara seperti Rusia, Prancis, China dan Korsel juga diketahui ikut serta dalam lelang tender di Saudi ini.

Kesepakatan nuklir antara Saudi dan AS akan memberikan kesempatan pada korporasi AS untuk mengekspor teknologi nuklir ke Saudi. Hal ini berlangsung di tengah ketegangan yang menyelimuti program nuklir Iran, rival Saudi. Baik AS maupun Saudi telah mengeluhkan aksi-aksi destabilisasi Iran di kawasan Timur Tengah.

Markey menyatakan, keengganan Saudi untuk berkomitmen pada ‘standar emas’ atau standar tertinggi dalam kesepakatan 123 sangat mengkhawatirkan. Terlebih para pejabat dan anggota Kerajaan Saudi menyebut program nuklir mereka bisa ditargetkan untuk tujuan geopolitik, selain untuk kebutuhan energi listrik.

Dalam pernyataan terpisah pada Selasa (27/2) waktu setempat, Markey meminta Perry, yang dilaporkan akan bertemu pejabat Saudi di London, untuk memberikan penjelasan kepadanya dan anggota Komisi Hubungan Luar Negeri Senat AS lainnya soal hasil pertemuannya itu nanti.

“Dan pemerintahan Trump harus menjelaskan secara menyeluruh mengapa mereka mempertimbangkan untuk berkompromi (soal kesepakatan 123 dengan Saudi),” tegasnya. [dtc]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here