Tradisi Gotong Royong Masih terjaga di Kampung Lebak Pari

Lebak, Liputanbanten.co.id – Kalimat gotong royong memang sudah tak asing lagi didengar, namun seiring berjalannya waktu kini budaya tersebut sudah mulai rapuh tertanam di dalam diri masyarakat. Memang, gotong royong banyak orang menganggap hanya dimiliki oleh masyarakat perkampungan (pedesaan) saja, padalah tidak demikian dengan masyarakat perkotaan pun bisa dilakukan.

Karena, melalui gotong royong semua pekerjaan (beban) akan terasa ringan seperti pepatah mengatakan “bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”, kalimat itulah yang terus memotivasi dan menginspirasi bagi masyarakat. Walaupun, tak semua masyarakat perkampungan ataupun perkotaan menghilangkan budaya tersebut.

Seperti di dalam jiwa masyarakat yang ada di kabupaten Lebak lebih tepatnya di kampung Lebak Pari III RT/RW. 009/004 Desa Lebak Peundeuy Kecamatan Cihara. Budaya gotong royong atau mereka sering menyebutnya “rereyongan”, rereyongan itu masih saja terus dilakunan (dibudayakan) dari sejak kampung tersebut didirikan hingga saat ini. Hal itu guna meringankan kerjaan tetangga atau sikap saling bantu membantu antar tetangga (sesama).

Seperti dikatakan salah satu warga kampung setempat, Ahmad Suki, gotong royong adalah budaya masyarakat dan mencerminkan kebersamaan yang tumbuh dalam lingkungan masyarakat. Ia mencontohkan gotong royong yang sering dilakukan oleh masyarakat kampung Lebak Pari III, yaitu seperti ada tetangga yang mau hajatan, renovasi jalan, renovasi rumah, menjaga kebersihan lingkungan (baksos), dan lain sebagainya.

“Tentu dengan gotong royong, masyarakat mau bekerja secara bersama-sama untuk membantu orang lain,” kata pria lulusan dari Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin (UIN SMH) Banten tahun 2015 itu, Selasa (26/6/18) kemarin.

Menurut dia, gotong royong merupakan warisan dari leluhur yang turun temurun. Kata dia, tentu budaya ini jangan sampai hilang atau terkikis oleh perkembangan zaman.

“Sebagai generasi muda, kita harus terus merawat tradisi yang telah diwariskan oleh para leluhur (kokolot) kampung sampai kapanpun,” ajak pria yang kerap disapa Suki alias Encuk.

Sementara itu, ketua Ikatan Remaja Aktif (IKRA) Lebak Pari III, Dede Ilyana menuturkan, sebagai generasi muda (millenial) jangan sampai melupakan warisan para leluhur atau meninggalkan kebudayaan yang telah diajarkan dari sejak dahulu kala.

“Ayo.. sama-sama kita rawat tradisi budaya gotong royong, karena dengan gotong royong (rereyongan) semua pekerjaan akan merasa ringan,” tandasnya (Lb/Ram)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here