Diserbu Pengembang Perumahan, Lahan Pertanian Di Kota Serang Makin Menyusut

Ilustrasi: Sejumlah petani tengah memanen tanaman padi di sebuah persawahan di pulau Jawa. (Foto: Kanal Satu)

Serang, Liputanbanten.co.id – Lahan pertanian di Kota Serang setiap tahunya terus mengalami pengurangan. Dalam kurun beberapa tahun terakhir tercatat terjadi pengurangan lahan pertanian sekitar 1000 hektar. Hal itu disebabkan gencarnya para pengembang perumahan yang berinvestasi di Kota Serang.

Tingginya pertumbuhan penduduk di Kota Serang menjadi sasaran para pengembangan perumahan. Perlahan tapi pasti, dengan dalih pertumbuhan penduduk yang bertambah dan peningkatan ekonomi daerah dan mayarakat yang yang sebelumnya tanami padi dan umbi-umbian harus beralih fungsi menjadi kapling-kapling perumahan. Apalagi, saat ini pemerintah Kota Serang tengah mengkaji perubahan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang akan mengizinkan pembangunan industri di wilayah Kecamatan Kasemen yang notabene sebagai wilayah lahan pertanian produktif.

Kepala Dinas Pertanian (Distan) Kota Serang Edinata, tidak menampik kondisi tersebut. Ia menjelaskan, seiring berjalannya waktu pertumbuhan penduduk di Kota Serang tiap tahunnya terus mengalami peningkatan. Apalagi semenjak ada program rumah subsidi. Para pengembang-pengembang perumahan semakin banyak yang masuk ke Kota Serang. Hal itu berdampak langsung pada area pertanian yang beralih fungsi jadi pemukiman.

“lahan pertanian di Kota Serang tiap tahunnya menyusut beralih fungsi jadi perumahan, tadinya itu lahan pertanian sekitar 8000 hektare lebih dan sekarang hayang berkisar angka 7000 lebih.
Dan itu wajar karena melihat pertumbuhan penduduk di Kota Serang,” kata Kepala Distan Kota Serang, Edinata saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon selular, Selasa (31/12/2019).

Gencarnya alih fungsi lahan pertanian menjadi perumahan diperparah dengan tidak adanya perda Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) di Kota Serang. Sehingga, sampai saat ini Kota Serang belum bisa mengatur wikayah pertanian yang harus dipertahankan.

Namun, Edinata berdalih, meski Kota Serang tidak punya perda LP2B pihaknya saat ini mengacu pada perda LP2B milik Provinsi Banten. Karena, Perda LP2B di Kota Serang masih menunggu tahap perubahan RTRW. “Kita gunakan Perda LP2B dari provinsi banten. Karena di kita belum punya perda itu Perda LP2B,” ujarnya.

Dikatakan Edinata, saat ini pihaknya akan mengunci lahan pertanian sekitar 3000 hektare. Penguncian lahan tersebut bertujuan agar tidak beralih fungsi kembali lahan pertanian produktif di Kota Serang.

“Lahan pertanian pertanian di kota Serang akan di kunci sekitar 300 Ha yang tidak boleh diganti apapun dan itu letaknya di Kasemen. Sedangkan di daerah taktakan. Walantaka dan curug kemungkinan akan beralih fungsi,” tandasnya (Lb/Ar/Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here