WHO: Pemakaian Tembakau juga Picu Serangan Jantung dan Stroke

Pemerintah resmi menaikkan tarif cukai produk hasil tembakau rata-rata 10,54 persen terhitung mulai 1 Januari 2017. (Dok/Net)

Liputanbanten.co.id – Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO) mengingatkan penggunaan tembakau menimbulkan penyakit jantung dan stroke, dan dapat memicu tiga juta kematian lebih dini dalam satu tahun. Pada Hari Tanpa Tembakau Sedunia, Lisa Schlein melaporkan upaya-upaya guna mendorong pengguna tembakau menghentikan kebiasaan itu.

Penyakit kardiovaskular adalah penyebab kematian utama di dunia, membunuh hampir 18 juta orang setiap tahun. Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO) mengaitkan sekitar tiga juta kematian itu dengan penggunaan tembakau dan paparan pada perokok pasif.

Direktur WHO Untuk Pencegahan Penyakit Tidak Menular Douglas Bettcher mengatakan kebanyakan orang sadar bahwa merokok meningkatkan risiko kanker dan penyakit paru-paru, tetapi penelitian menunjukkan banyak orang tidak menyadari bahwa penggunaan tembakau juga memicu serangan jantung dan stroke.

“Ada kesenjangan besar dalam pengetahuan tentang risiko penyakit kardiovaskular akibat penggunaan tembakau. Di banyak negara, kesenjangan pengetahuan ini sangat besar. Persentase orang dewasa yang tidak percaya bahwa merokok menyebabkan stroke, misalnya di China, mencapai 73%. Untuk serangan jantung misalnya, 61% orang dewasa di China tidak sadar bahwa merokok meningkatkan risiko (serangan jantung),” ujar Bettcher.

Pengetahuan adalah kekuatan. Manajer proyek pengendalian tembakau WHO Vinayak Prasad mengatakan pengetahuan dapat menyelamatkan nyawa.

“Jika perokok berhenti merokok, risiko penyakit kardiovaskular baru akan hilang dalam 15 tahun. Jadi 15 tahun setelah berhenti merokok, risikonya masih sama seperti jika Anda tidak berhenti merokok,” tukas Prasad.

WHO melaporkan penggunaan tembakau telah turun, dari 27% pada tahun 2000 menjadi 20% pada tahun 2016. Meskipun demikian WHO menambahkan bahwa merokok menyebabkan lebih dari tujuh juta orang meninggal setiap tahun. Badan PBB itu mengatakan lebih dari 80% perokok tinggal di negara-negara berkembang, dan jumlahnya terus meningkat.

WHO menyatakan prevalansi merokok menurun di seluruh kawasan di dunia, kecuali Timur Tengah dan Afrika. (VOA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here