Diwarnai Penolakan, Relokasi PKL Pasar Rau Ditunda

Sekertaris Daerah Kota Serang Tb Urip Henus saat ditemui di Pasar Induk Rau (PIR), Senin (2/09/2019).@Foto:Abdul/Liputanbanten.co.id

Serang, Liputanbanten.co.id – Rencana relokasi Pedagang Kaki Lima (PKL) di Pasar Induk Rau (PIR) oleh Pemkot Serang terpaksa ditunda sampai kamis 5 September 2019 mendatang.

Penundaan itu dilakukan dikarenakan adanya aksi penolakan beberapa PKL dan puluhan anggota Organisasi Masyarakat (Ormas) Pemuda Pancasila (PP) saat penertiban, Senin (20/9/2019).

Sekertaris Daerah (Sekda) Kota Serang, Tb Urip Henus mengatakan, relokasi yang dilakukan hari ini akan tetap dijalankan, hanya saja, ada beberapa kendala dilapangan. Meski banyak kendala pihaknya akan tetap melanjutkan relokasi sesuai rencana.

Baca Juga: Penertiban PKL Pasar Induk Rau Diwarnai Aksi Penolakan

Sebelum melanjutkan relokasi pihaknya akan melakukan dialog terlebih dahulu dengan PKL. Tujuannya mengetahui alur pemikiran serta keinginan masing-masing pedagang.

“Sebetulnya tidak dibatalkan, jadi pemerintah akan membuka ruang dialog antara pedagang dan pemerintah lagi karena dialog tadi berjalan sengit maka kita putuskan kamis 5 September 2019 dialog lagi di pemkot pukul 9.00 WIB, jadi tidak ada tuh pembatalan,” katanya.

Selain itu, Urip pun menuding penolakan itu dilakukan oleh para pedagang dan Ormas dikarenakan ketidaktahuan mereka pada masalah yang ada dilapangan. Salah satunya pendemo menyebut bahwa gedung PIR tidak layak dihuni.

Padahal, lanjutnya, bangunan PIR layak digunakan sampai 50 tahun sedangkan sampai saat ini gedung baru terpakai 17 tahun dan ini masih layak.”Namanya juga dinamika organisasi, mungkin saja mereka (pendemo) ngomong begitu karena ketidak tahuan. Dan Kita juga belum tahu maksud tidak layak bagi mereka itu kaya gimana,” tandasnya.

Sementara, Kepala Dinas Perdagangan Industri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Disperdaginkop dan UKM) Kota Serang Yoyo Wicahyono mengungkapkan dalam penertiban PKL yang di Pasar Induk Rau (PIR) banyak kelompok dan oknum yang bermain, sehingga relokasi terjegal.

“Terlalu banyak kelompok, dan terlalu banyak juga yang berkepentingan. Jadi disini banyak kepentingan yang bermain. Mereka minta kami (pemerintah) untuk melengkapi fasilitas dan meminta dimanusiakan. Kemudian, mereka juga meminta untuk membuktikan uji kelayakan bangunan Pasar Rau ini,” ujar Yoyo.

Meski dijegal, penerbitan akan tetap dilakukan, karena sebagai pedagang sudah setuju dan sudah mengosongkan lapak tempatnya berjualan. “Hari ini kami tetap berjalan sesuai dengan kesepakatan, yang sudah kosong itu kami bersihkan,” ujarnya.

Iapun memastikan, dialog yang akan dilaksanakan pada kamis mendatang tidak akan menemukan titik buntu. Karena pihaknya akan memenuhi syarat yang diajukan para pedagang.

“Saya pikir dialog ini tidak akan ada titik buntu. Kuncinya semua pihak mendukung. Akan tetapi ada syarat yang mereka ajukan dan harus disepakati. Jadi mereka itu minta dialog, kemudian ingin adanya kesiapan sarana dan prasarana, termasuk penilaian kelayakan gedung dan mereka ingin dimanusiakan,” tutupnya.(Lb/Ar/Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here