Mundurnya Trump dari Kesepakatan Paris Dorong Negara Lain untuk Bergabung

Presiden AS baru Donald Trump. (Foto: Dok/Net)

AS, Liputanbanten.co.id – Setelah Presiden Donald Trump mengumumkan Amerika Serikat akan mundur dari kesepakatan iklim Paris karena kesepakatan itu membuat AS “mengalami kerugian ekonomi besar,” dua negara dikabarkan akan bergabung dengan kesepakatan ini.

Nikaragua dan Suriah akhir tahun lalu mengumumkan mereka akan bergabung dengan kesepakatan global untuk mengurangi emisi gas-gas yang menyebabkan pemanasan global.

Para pakar mengatakan keputusan Trump untuk menarik diri dari upaya penanggulangan perubahan iklim telah mendorong negara lainnya untuk ikut bergabung.

Namun apakah negara lain akan mampu mengisi kesenjangan yang ditinggalkan AS masih belum terjawab.

Tak ada negara lainmengikuti jejaknya, ujar mantan perunding utama kesepakatan iklim Todd Stern.

“Kabar baik pertama, dan bagian paling penting, adalah negara-negara lain tetap bergabung dalam kesepakatan,” ujarnya.

Peningkatan upaya

Beberapa negara telah mengumumkan rencana untuk meningkatkan upaya-upaya mereka, dan China, Perancis, Inggris, dan beberapa negara lainnya telah menyatakan mereka akan mengakhiri penjualan kendaraan yang digerakkan oleh bahan bakar fosil, meskipun tak semua negara telah menetapkan tenggat waktunya.

Lebih dari 60 negara, negara bagian, kota dan perusahaan telah berikrar untuk mengakhiri pembangkit listrik bertenaga batubara.

Sementara di AS, para pakar mencatat bahwa negara-negara bagian, kota, dan badan-badan usaha telah mengambil tindakan untuk menanggulangi perubahan iklim, meskipun pemerintah federal belum mengambil tindakan apapun.

Setelah pengumuman Trump, sebuah aliansi yang mewakili lebih dari setengah ekonomi AS berikrar untuk memenuhi komitmen AS terhadap pengurangan emisi gas-gas kaca.

Koalisi “We Are Still In” memiliki 2.770 anggota termasuk New York, California, dan tujuh negara bagian lainnya; 230 kota, termasuk sembilan dari 10 kota paling padat; serta Unilever, Intel, Gap Inc, dan beberapa perusahaan lain yang tergabung dalam Fortune 500.

Beberapa negara bagian telah mengumumkan rencana untuk berbuat lebih banyak dalam mengurangi emisi gas rumah kaca. Virginia dan New Jersey mewajibkan pembangkit tenaga listrik untuk membayar polusi karbon yang ditimbulkan, bergabung dengan program perdagangan emisi sembilan negara bagian lainnya.

“Sebenarnya upaya ini bisa terjadi secara alami,” ujar wakil menteri perdagangan Virginia, Angela Navarro, namun keputusan Trump “memberi kami dorongan lebih besar.”

Lebih dari 400 perusahaan di seluruh dunia telah berjanji untuk mengurangi tingkat emisi mereka melalui berbagai sasaran iklim global, dan 26 perusahaan yang berpusat di AS, termasuk McDonald, Walmart, dan PepsiCo, telah menentukan targetnya.

Kekuatan-kekuatan pasar juga telah membantu penurunan emisi gas rumah kaca AS secara konstan sejak tahun 2007. Teknik stimulasi sumur gas juga telah menciptakan lonjakan dalam produksi gas alam, menggantikan bahan bakar batubara yang lebih kotor di pembangkit-pembangkit listrik. Dan biaya untuk pembangkit listrik tenaga bayu dan surya juga telah mengalami penurunan.

Mengubah situasi

Namun masih belum jelas apakah tren ini akan terus berlanjut. Pemerintahan Trump berusaha untuk membatalkan peraturan-peraturan yang ditujukan untuk membatasi emisi gas-gas rumah kaca yang dihasilkan oleh pembangkit-pembangkit tenaga listrik, kendaraan, serta sumber-sumber lainnya.

“Pertanyaannya adalah, berapa angka perkiraannya?” tanya analis kebijakan iklim dari Rhodium Group, Kate Larsen. “Apakah pembatalan peraturan pengurangan emisi oleh pemerintahan federal cukup untuk mengubah keadaan?”

Tindakan negara bagian, kota, dan dunia usaha adalah “tempat yang tepat untuk mengawalinya,” imbuhnya, “namun seiring waktu, tindakan ini tidak dapat menggantikan aksi yang diambil oleh pemerintah federal.”

Dunia berikrar di Paris untuk membuat tingkat pemanasan global kurang dari 2 derajat Celsius di atas tingkat pra-industri. Saat ini masih jauh dari tujuan yang ingin dicapai.

Seluruh negara harus meningkatkan upayanya. Namun dengan mundurnya pemerintahan Trump dari kesepakatan ini, mantan perunding iklim AS, Todd Stern mengatkan negara-negara lain akan merasa enggan untuk meningkatkan upayanya.

“Anda lihat Amerika Serikat – negara dengan riwayat penghasil emisi terbesar dalam sejarah, dan saat ini adalah penghasil emisi kedua terbesar – tiba-tiba berkata, ‘Tidak jadi.’ Apa dampaknya? Tentunya tidak baik,” ujar Stern.

Para perunding akan bertemu lagi di Polandia pada bulan Desember yang bertujuan untuk melakukan finalisasi pada “buku aturan” cara mengimplementasikan kesepakatan iklim Paris. Para pakar mengatakan hal tersebut akan menjadi satu dari berbagi indikasi pertama tentang seberapa serius negara-negara tersebut dalam meningkatkan upayanya untuk memenuhi sasaran iklimnya, dengan atau tanpa Amerika Serikat. (VOA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here