Apakah Camilan Selalu Buruk?

Ilustrasi

Serpong, Liputanbanten.co.id – Snack, makanan ringan, atau camilan, identik dengan anggapan negatif. Banyak orang berpandangan bahwa snack adalah makanan manis, berminyak, berlemak, asin, dan membawa dampak buruk bagi kesehatan. Namun, tidak selamanya snack buruk bagi kesehatan. Justru, camilan diperlukan untuk memenuhi kebutuhan Anda.

Kita tetap bisa memiliki ruang untuk camilan, hanya saja perlu mengatur dan mengelola asupannya ke dalam tubuh.  Menurut Widya Fadila, Nutritionist WRP, ngemil diperlukan untuk menjaga metabolisme tubuh selama jeda menuju jam makan besar. Kita dapat memilih camilan sehat yang akan membuat kita tidak kelaparan hingga jam makan tiba.

“Bila kita menahan diri dan menjadi sangat lapar, kemungkinan besar kita justru akan makan berlebihan ketika tiba waktu makan. Selain itu, camilan sehat juga akan menjaga metabolisme tubuh,” ujar Widya dalam acara peluncuran produk baru WRP Everyday Fruitbar dan WRP Everyday Low Fat Milk, di Pekan Raya Indonesia (PRI) 2017, ICE, BSD, Kamis (2/11/2017).

Meski begitu, makan camilan ada aturannya. Artinya jangan sampai camilan mengganggu makanan utama, sehingga harus diatur waktu mengkonsumsinya. Umumnya seseorang disarankan makan sebanyak 5 kali dalam sehari, yang terdiri dari 3 kali waktu makan utama dan 2 kali makan snack. Setiap waktu makan ini bisa diberi jarak setiap 3-4 jam sekali.

Bagaimana bila satu atau dua kali camilan tidak cukup? Dalam hal ini yang harus diperhatikan adalah jenis camilan dan kalorinya. Buah-buahan termasuk camilan yang baik, mengenyangkan, dan memiliki kalori relatif rendah. Ada juga beberapa jenis camilan lain yang bisa dipilih.

Selain itu, cara makan juga menentukan apakah seseorang akan merasa kenyang atau tidak. Menurut Widya, kita sebaiknya memilih camilan yang harus dikunyah cukup lama agar mulut merasakan sudah makan dan otak juga merasa kenyang.

“Otak kita membutuhkan waktu sekitar 20 menit untuk sadar bahwa perut sudah kenyang. Sehingga bila kita mengunyah lebih lama, otak memiliki kesempatan untuk merasakan kenyang itu,” ujar Widya.

Atas dasar itu pula, WRP menyediakan snack yang cenderung membuat orang mengunyahnya. “Ini chewy snack yang mengandung serat dari biji-bijian serta vitamin dan mineral, bukan crunchy snack. Tujuannya agar kita mengunyah lebih lama dan lebih cepat merasa kenyang,” jelas Nofa Sumawarti, General Brand Manager WRP.

Kalori

Di samping mengenyangkan, hal lain yang perlu diperhatikan soal camilan adalah kandungan kalorinya. Kadang-kadang kita makan snack berupa sepotong kue kecil tanpa merasa berdosa. Padahal beberapa kue, seperti tart dan berbagai jenis cup cake memiliki kalori hingga 250 kalori.

Pada umumnya orang dewasa memerlukan 2000-2150 kalori agar berat badannya tidak melonjak. Tentu ini tergantung pada banyak faktor, seperti usia, indeks massa tubuhnya, dan juga aktivitasnya. Bila setiap kali makan kita mengasup 700 kalori, maka hanya tersisa sedikit untuk snack. Inilah sebabnya penting memilih snack rendah kalori, karena camilan sebaiknya hanya 10 hingga 15 persen dari asupan per hari.

“Untuk itu kita sebaiknya pintar membaca kandungan kalori dalam kemasan snack. Ada produsen yang menuliskan misalnya kandungan kalori hanya 50 per sajian 30 gram. Padahal di dalamnya ada 150 gram, jadi orang yang tidak tahu menganggap kalorinya hanya sedikit,” ujar Widya.

Nah untuk menghindari kesalahan itu, WRP mencantumkan angka saji sesuai dengan yang dimakan orang dalam satu kemasan, yakni 80 kalori, supaya orang tidak “tertipu.” Karena kandungan kalorinya relatif rendah, maka jenis snack seperti ini bisa lebih sering dimakan.

Dalam kesempatan yang sama, WRP juga memperkenalkan susu rendah lemak WRP Everyday Low Fat Milk dalam dua rasa yaitu Vanilla dan Coklat. Sedangkan di booth-nya WRP memberi konsultasi gratis soal tips diet sehat dengan ahli gizi.(kom)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here