17 Tahun TKI Asal Pontang Belum Pulang‎

Serang‎, Liputanbanten.co.id – Astara bin Asnawi Warga Kampung Domas, Desa Domas, Kecamatan Pontang, Kabupaten Serang sudah 17 tahun menunggu putri tercintanya, Nilawati pulang ke kampung halaman. Nilawati berangkat sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Saudi Arabia sejak duduk di bangku sekolah kelas 6 SD.‎

Astara (45) mengatakan bahwa awal mula putrinya tersebut berangkat menjadi TKI lantaran prustasi melihat dirinya bercerai dengan ibunya Neli Susilawati. Putrinya tersebut berangkat bersama teman-temannya sebanyak empat orang melalui calo‎ dengan biaya senilai Rp 3 juta yang dibayarkan setelah menerima gaji.

“‎Waktu itu anak prustasi, saya waktu itu lagi ada masalah dengan keluarga, saya pisah. Jadi semuanya ada empat orang anak saya ikut sama saya, waktu itu saya sudah omongin jangan pergi, karena umurnya masih kecil, badan doang yang bongsor, SD saja belum tamat, masih usia 16 tahun, tapi tetap saja berangkat,” kata Astara.‎

Namun, kata dia selama bekerja disana anaknya tersebut ‎tidak boleh pulang oleh majikannya, meskipun sudah meminta izin untuk pulang beberapa kali. Ia mengaku terakhir melakukan komunikasi dengan anaknya tersebut tahun 20‎10.

“‎Kerjanya enak, majikannya baik, dianya (Nilawati) juga betah. Tapi kalau mau minta pulang dibohongin terus sama majikannya, bilangnya mau mengurus surat malah dibohongin. Abah mah nungguin disini, setiap ada mobil lewat dikira ada, pulang, tapi gak ada, sampai sekerang gak ada komunikasi lagi,” katanya.

Ia mengungkapkan, anak tersebut pernah mengirimkan uang gajian selama 5 bulan berupa cek sekitar‎ Rp 7 juta yang dikirim melalui kantor pos pada tahun 2005. Namun uang tersebut tidak diterima secara utuh lantaran dipotong gaji selama dua bulan oleh pihak sponsor yang memberangkatkan.

“‎Anak saya berangkat melalui sponsor namanya Dahlan, rumahnya dekat sini, tapi dia sekarang sudah gak ada disini, dia katanya sekarang kerja di Bogor, jadi saya juga susah minta tolongnya. Pas berangkat jadi TKI anak saya atas nama Bibinya Enah, soalnya waktu itu mungkin KTPnya belum cukup umur,” katanya.

Ia mengaku sudah me‎minta tolong terhadap Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) Banten, Maftuh Hafi Salim agar anaknya tersebut segera dicari keberadaannya. Namun, kata dia hingga kini belum juga ada informasi kapan anak perempuannya tersebut pulang.

“‎Sampai sekerang saya maish berharap anak saya pulang, saya selalu berdoa setiap hari agar anak cepat pulang. Mau minta tolong ke pemerintah saya tidak tahu,” imbuhnya.‎ [Lb/Yna]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here