Tjandra Yoga Aditama: Penderita TB pada Perempuan Tinggi

Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, SpP(K), MARS, DTM. (Foto: Dok PPL Depkes)
Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, SpP(K). (Foto: Dok PPL Depkes)

Kesehatan, liputanbanten.com – Peringatan Hari Perempuan Internasional pada tanggal 8 Maret 2015 ke 40 kemarin, mendapat perhatian dari Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes), Tjandra Yoga Aditama, dalam sudut kesehatan, Minggu (8/3). Ia menyampaikan data mutakhir tentang Tuberkulosis (TB-) dan perempuan di dunia yang dikeluarkan Badan Kesehatan Dunia (WHO).

“Beratnya kehidupan seorang perempuan antara lain ditandai seperti pepatah bijak, bahwa seorang pegrempuan harus berpikir seperti seorang pria, bertindak seperti seorang wanita, terlihat seperti seorang gadis muda dan bekerja seperti kuda,”kata dia.

Menurut data WHO, sambungnya, bahwa setiap menit seorang perempuan meninggal akibat TB di dunia. Angka kematian perempuan di dunia akibat TB pada setiap hari sekitar 1.500 orang.

“Padahal kalau diobati dengan baik, maka TB dapat disembuhkan. Hal yang juga menyedihkan TB pada perempuan dapat mengakibatkan stigma dan berhubungan dengan kemiskinan,” jelasnya. Padahal seorang perempuan, kata dia, dapat sembuh dari TBnya, tetapi kalau penyakitnya sudah berat andainya sembuh tetap mungkin meninggalkan gejala sisa seperti kemandulan, gangguan pendengaran dan penularan TB pada anaknya.

Seperti diketahui, “Hari Perempuan Internasional” adalah sebuah hari besar yang dirayakan di seluruh dunia untuk memperingati keberhasilan kaum perempuan di bidang ekonomi, politik, dan sosial. Di antara peristiwa-peristiwa bersejarah yang terkait, perayaan ini memperingati kebakaran Pabrik Triangle Shirtwaist di New York pada 1911 yang mengakibatkan 140 perempuan kehilangan nyawanya.

Gagasan tentang perayaan ini pertama kali dikemukakan pada abad ke-20 di tengah gelombang industrialisasi dan ekspansi ekonomi yang menyebabkan timbulnya protes-protes mengenai kondisi kerja.  Kaum perempuan dari pabrik pakaian dan tekstil mengadakan protes pada 8 Maret 1857 di New York City, Amerika Serikat. Para buruh garmen memprotes apa yang mereka rasakan sebagai kondisi kerja yang sangat buruk dan tingkat gaji yang rendah. Para pengunjuk rasa diserang dan dibubarkan oleh polisi. Dua tahun kemudian, pada bulan yang sama, kaum perempuan berinisiatif untuk membentuk serikat buruh.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here