Kisah Ustadzah Nur, Pahlawan Qur’an dari Gunung Kidul

Ustadzah Nur Hayati (43) pengajar di Rumah Tahfidz Nurul Qur’an Gunung Kidul, Yogyakarta. Dok. Foto: DQ

Yogyakarta, Liputanbanten.co.id – Ustadzah Nur Hayati (43) pengajar di Rumah Tahfidz Nurul Qur’an Gunung Kidul, Yogyakarta. Perjalanan hidupnya tak mudah. Meski kini sudah menjadi pengajar Qur’an, ternyata Ustadzah Nur sudah lama berkeinginan untuk memiliki pondok pesantren dan santri penghafal Qur’an.

Saat ini dirinya bersyukur karena dengan wasilah rumah tahfidz ini, impiannya untuk membina santri dapat terwujud. Keceriaan anak-anak dan kebanggaan mereka ketika berhasil menghafal surat demi surat menjadi kebahagiaan yang tak ternilai di mata Ustadzah Nur.

Kala ditemui di kediamannya, ia banyak berbagi cerita atas cobaan dan perjuangan yang dilalui untuk menjadi seorang hafidzah. Mulai dari lumpuh kaki selama menghafalkan Al-Qur’an, kehancuran keluarga kecilnya, hingga difonis gangguan jiwa seumur hidup.

“Saya tiap hari harus minum obat mbak, kalau ndak ya bisa kambuh. Kalau sudah kambuh semuanya tidak bisa saya kontrol. Bicara sendiri, diam, dan ndak bisa ngajar santri, saya sudah 15 kali masuk rumah sakit jiwa,” tutur Ustadzah Nur, Senin (22/6/2020).

Alhamdulillah, ia dipertemukan dengan Dokter Ida, yang sangat memahami setiap keluhan sakit yang beliau rasakan. Kini penyakit Ustadzah Nur sudah tidak pernah kambuh lagi.

Dirinya justru ditugaskan Dokter Ida untuk mengisi kajian di RSUD Wonosari, Gunung Kidul setiap bulannya. Sebuah kehormatan baginya yang awalnya pasien rumah sakit jiwa justru mendapat amanah menjadi asatidz di rumah sakit.

“Semuanya harus saya lewati untuk Qur’an ini mbak, apapun itu. Memang sejak awal saya istikharah untuk memulai hafalan Al-Qur’an, saya mendapat mimpi kalau akan menghafal dengan nglasut (lumpuh) dan saya mengajar tahfidz banyak santri. Itu yang membuat saya semangat, apapun kondisi saya,” pungkasnya.

Menjadi manusia yang dipilih Allah SWT untuk menjaga kalam-Nya memang tidak mudah. Proses menghafal dan menjaga hafalan Al-Qur’an membutuhkan perjuangan. Bersama niat tulus yang akan membawa pada kebaikan untuk diri sendiri, keluarga, dan santri-santrinya.

Ustadzah Nur adalah salah satu pahlawan Qur’an di Gunung Kidul dan salah satu dari ribuan penjaga Al-Qur’an lainnya di seluruh pelosok wilayah binaan PPPA Daarul Qur’an. Ustadzah Nur juga terus berdakwah dalam segala kondisi dan dimanapun tempat yang siap menerimanya. Harapannya Ustadzah Nur dan seluruh pejuang Qur’an di Indonesia terus diberikan kekuatan untuk melanjutkan estafet perjuangan pahlawan Indonesia bersama Al-Qur’an. Insyaallah. (Lb/DQ/Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here