Menilai Orang Itu Gampang

Rektor UIN SMH Banten Prof. Dr. H. Fauzul Iman, MA. (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Oleh: Prof Dr. H. Fauzul Iman, MA.

Suatu hari para malaikat protes kepada Allah: “Ya Allah, kenapa Engkau tugaskan manusia di muka bumi, padahal mereka makhluk lemah yang gemar merusak dan melakukan kesalahan? Mengapa bukan kami, makhluk-makhluk yang suci ini, yang Engkau tugaskan di sana?” pinta para malaikat itu kepada Allah.

Allah merespon protes para malaikat itu dengan menawarkan sebuah tugas kepada mereka. “Bila kalian mau, coba tentukan di antara kalian yang sanggup memikul tugas di bumi?” tanya Allah kepada para malaikat. Para malaikat segera mengajukan dua koleganya, yaitu Harut dan Marut untuk memulai melaksanakan tugasnya di muka bumi.

Tak lama setelah berada di bumi, Harut dan Marut berjumpa dengan seorang gadis menawan. Sang gadis bersedia menemani dengan syarat Harut dan Marut mempersekutukan Tuhan. Syarat ini ditolak oleh kedua malaikat tadi. Sang gadis tak kehilangan akal, ia memberikan syarat yang lebih ringan agar Harut dan Marut menenggak minuman keras. Rupanya Harut dan Marut segera menenggak minuman keras itu yang menyebabkan mereka dapat berbuat segalanya. Sang gadis pun bergembira karena telah berhasil merenggut kehormatan dan kesucian Harut dan Marut. Inilah rangkuman kisah mitos Harut dan Marut dari orang-orang Arab serta riwayat yang dikemukakan dalam beberapa tafsir.

Kisah di atas melukiskan betapa dalam realita kehidupan yang namanya menilai, baik yang bersifat pujaan lebih-lebih yang bernada buruk semacam mengorek-ngorek keburukan orang lain, merupakan perbuatan yang gampang diletuskan. Orang begitu mudah menilai kelemahan orang lain dan mengklaim dirinya paling mampu mempertahankan kesuciannya secara hoax.

Bila Harut dan Marut yang menganggap dirinya paling suci tak berdaya menyandang kesuciannya, haruskah kita sebagai umat manusia berunjuk gigi dengan sikap kecongkakan dan kesombongan. Di bumi Allah ini umat manusia, baik yang berstatus tinggi maupun rendah, tidak berhak mengklaim dirinya paling benar dan bersih sementara orang lain dengan mudah dinilai salah dan kotor.

Untuk menilai orang lain, ajaran agama telah menerapkan rumus “koreksi diri”. Rumus ini digunakan untuk memperkokoh “dialog” antara si penilai dengan yang dinilai. Artinya menilai bukan tujuan. Inti yang terdalam dari menilai orang adalah dakwah dalam rangka memperbaiki dan menciptakan kemaslahatan bersama, bukan malah membuat situasi semakin keruh dengan menyebarkan berita hoax.

Dengan kata lain, sebelum memperbaiki orang lain, kita perlu mengadakan perbaikan diri. “Koreksilah diri sendiri”, kata Nabi Saw. “Sebelum mengoreksi orang lain.”

Ibnu Taimiyah dalam kitabnya Minhaj as-Sunnah mengecam sifat istihqaq yang mengaku diri paling benar dan orang lain salah. Sifat ini, kata Ibnu Taimiyah, sangat berbahaya dan karena itu segera dihindari sebelum melekat pada batin manusia. Inilah yang dimaksud dalam firman Allah: “Janganlah kalian menggangap diri kalian paling suci” (QS. an-Najm [53]:32).

Adalah naif bila umat manusia yang sangat nisbi dari kebenaran terlalu menggampangkan diri menilai orang lain sebagai pihak yang selalu salah, sedang dirinya sendiri tak pernah terbuka mengakui kekurangan dan kelemahannya. Wallahua’lam.

Penulis adalah Rektor UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here